Biografi Adnan Buyung Nasution : Perjuangan untuk Si Miskin Tertindas

By | 11/08/2019

23 September 2015. Waktu berjalan seperti biasa. Tak seorang pun bisa memastikan apa detail yang akan terjadi pada hari itu. Tak juga pernah disangka bahwa tanggal itu menjadi hari wafatnya seorang pejuang hukum Indonesia :  Adnan Buyung Nasution.

Pemilik nama asli Adnan Bahrum Nasution atau akrab disapa Bang Buyung ini lahir di Batavia, 20 Juli 1934 dan meninggal pada usia 81 tahun. Ia dikenal sebagai seorang pengacara/advokat dan aktivis hukum Indonesia. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) merupakan salah satu lembaga yang memberikan perhatian pada pembelaan hukum kaum lemah. Bang Buyung adalah salah seorang pendirinya.

Biografi Adnan Buyung Nasution , Perjuangan untuk Si Miskin TertindasNama LBH hampir identik dengan nama besar yang dimilikinya hingga akhir hayat. Lembaga ini dirintisnya sejak tahun 1972. Selama hidupnya ia mencoba untuk mendedikasikan ilmu, tenaga, pikiran, dan usahanya untuk kepentingan orang banyak dalam penegakan hukum. Salah satu prinsipnya dalam bekerja adalah “mengerjakan sesuatu selalu total dan menggunakan hati”. Salah satu cita-cita mulianya adalah ingin menjadikan LBH sebagai kawah candradimuka lahirnya advokat yang mempunyai landasan moral, kemanusiaan, dan etika yang kuat.

Di akhir hayatnya, Adnan Buyung sempat menuliskan wasiatnya tentang LBH dan perjuangan untuk si miskin. “Jagalah LBH/YLBI teruskan pemikiran dan perjuangan bagi si miskin tertindas”, demikian tulisnya di secarik kertas dengan spidol warna merah ketika dijenguk pengacara senior Todung Mulya Lubis.

20 September 2015, Todung menjenguknya di Rumah Sakit Pondok Indah. Karena perasaannya yang tak enak, Todung kembali menjengung Adnan Buyung di malam harinya. Saat itu Todung terenyuh karena melihat Adnan Buyung memegang tangannya sambil menangis. Ketika itu, Adnan Buyung seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi kesulitan karena mulutnya tertutup ventilator. Lantas seorang anggota keluarganya memberikan secarik kertas dan spidol merah. Dan tertulislah pesan terakhir itu dengan perlahan, bersamaan dengan air mata yang masih mengalir. Untuk melanjutkan perjuangan membela si miskin tertindas. Todung tak menyangka bahwa pesan dalam secarik kertas itu menjadi wasiat terakhir seniornya itu.

Walaupun dikenal sebagai ahli hukum, Adnan Buyung Nasution dikenal sebagai pembelajar berbagai bidang ilmu yang berwawasan luas. Ia pernah belajar di Teknik Sipil ITB setamat SMA Negeri 1 Jakarta. Pendidikan di bidang hukum pernah ditempuhnya di Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Melbourne Australia dan Universitas Utrecht Belanda.

Adnan Buyung pernah menjadi jaksa dan Kepala Humas di Kejaksaan Agung pada 1957-1968. Panggilan hatinya untuk menjadi aktivis juga sangat dominan. Ia pernah menjadi Ketua Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI) pada 1966, dan menjadi anggota DPRS/MPRS pada 1966-1968. Ia menjadi advokat dan konsultan hukum di Adnan Buyung & Associates sejak 1969, mendirikan LBH dan menjadi pengurus hingga tahun 1986. Pernah menjadi Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada 1981-1983.

Pada 2007-2009 dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Adnan Buyung menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden.

23 September 2015. Saatnya sang pejuang hukum memenuhi panggilan Sang Pencipta, Sang Pemilik Keadilan yang Sesungguhnya.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.