Biografi RA Kartini : Sisi Lain Emansipasi dan Komitmen BerIslam

By | 21/04/2015

Biografi RA Kartini : Sisi Lain Emansipasi dan Komitmen BerIslam

RA Kartini yang diperingati hari lahirnya setiap tanggal 21 April lebih banyak dikenang sebagai pejuang emansipasi. Padahal komitmennya pada Islam sebagai agama yang diyakininya, mendominasi cara berfikir dan jejak hidupnya. Perjuangannya mengangkat harkat dan martabat perempuan tidak terlepas dari bagaimana Islam memuliakan perempuan.

Surat Kartini pada Stella tanggal 18 Agustus 1899, menunjukkan perlawanannya pada diskriminasi perlakuan bersebab keturunan atau kedudukan duniawi : “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: Keningratan Pikiran (fikrah) dan Keningratan Budi (akhlak). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron!”

Suratnya kepada Prof Anton dan Nyonya, tanggal 4 Oktober 1902 menunjukkan konsep perjuangannya untuk perempuan : “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan. Bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tetapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

KArtiniPemikiran Kartini yang lebih Islami mulai muncul ketika ia mulai belajar Islam melalui K.H. Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Petikan surat-suratnya berikut ini menunjukkan komitmennya untuk menjadi lebih baik dalam berIslam :

Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 5 maret 1902).

Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa yang kebarat-baratan” (Ditujukan kepada Ny Abendanon, 10 Juni 1902).

Moga-moga Kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut di sukai” (ditujukan kepada Ny Van Kol, tgl 21 juli 1902).

Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902)

Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Allah, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dialah yang dapat menyembuhkannya” (Ditujukan kepada Abendanon, 1 Agustus 1903).

Ingin benar, saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah)” (ditujukan kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903).

Saatnya menggali lagi biografi RA Kartini yang menunjukkan pemikirannya yang ingin memperjuangkan hak-hak perempuan tanpa harus menabrak fitrahnya sebagai mahluk yang dimuliakan Allah Ta’ala. Termasuk usaha dan keinginannya menjadi lebih baik dengan bimbingan Islam. (**penulisbukubiografi.com)

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

Buku biografi RA Kartini, RA Kartini, Biografi Kartini, Biografi RA Kartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *