Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (1)

By | 06/04/2019

Kalau Boleh, Saya Ingin diwafatkan Saat Mengajar

            Hari Kamis, malam Jum’at yang dingin, 25 Juli 1963. Desa Parabek, sekitar 2 kilometer dari Bukittinggi, di kaki Gunung Singgalang, sedang bersiap untuk berduka. Seorang tokoh karismatis yang dicintai, Syekh Ibrahim Musa, pendiri Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, yang juga dikenal dengan sebutan penghormatan “Inyiak Parabek”, sedang menunggu di pembaringan dengan tenang panggilan RabbNya.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (1)

            Sudah beberapa hari sebelumnya, Inyiak Parabek bertahan dengan semangat yang luar biasa, walau sakit parah menggerogoti tubuh bersahajanya. Menurut penuturan Syekh H. Abdul Gafar, salah seorang murid langsung Inyiak Parabek, di akhir hidupnya, meskipun sakit, beliau  terlihat tak ingin menyerah, untuk terus melaksanakan kegiatan yang sangat dicintainya : mengajar. “Inyiak masih menyempatkan menemui para ulama lain yang berkunjung ke rumahnya untuk mengkaji ilmu,” tutur H.Abdul Gafar yang saat ini menjadi penerus gurunya dengan menjadi salah satu Syekh Madrasah di Sumatera Thawalib Parabek. Ketika diminta untuk beristirahat saja, beliau hanya berkata : “Ah… saya hanya mendengarkan beliau-beliau membaca kitab tadi”. Bahkan, 2 hari sebelum wafat, Inyiak Parabek masih menerima tamu dari Dar Al Funun Padang Panjang yang meminta kesediaan beliau untuk menghadiri sekaligus memberi pencerahan pada acara Ulang Tahun Madrasah tersebut. Undangan itu hanya dijawab : “InsyaAllah kalau badan saya sehat saja”.

            Syekh H.Abdul Gafar yang menjadi santri di Madrasah Sumatera Thawalib sejak 1940, hingga 1946, merupakan salah satu saksi hidup bagi teladan Inyiak Parabek dalam totalitas dan kecintaan pada ilmu dan pembelajaran. Dalam kondisi sakit, beberapa waktu menjelang wafatnya, seperti diceritakan oleh H.Abdul Gafar, Inyiak Parabek masih bersemangat untuk ingin terus mengajar. “Ketika itu, para guru madrasah yang sedang menunggui Inyiak yang sedang sakit, terkejut karena tiba-tiba beliau bangun dari berbaring dan duduk bersandar bantal,” kisah H.Abdul Gafar. Posisinya seperti sedang mengajar. Kemudian terdengar suara Inyiak dengan jelas : “Kitabuzzakah !”. Sebuah isyarat untuk mulai pelajaran tentang bab zakat dari sebuah kitab. Lantas, terdengarlah penjelasan  yang runtut dan tegas tentang zakat dalam bahasa Arab yang fasih. Sesekali Inyiak Parabek, bertanya pada guru-guru yang mendengar dengan khikmat : “Fahimtum? Apakah anda semua faham?”.

 Tidak lama setelah kejadian yang menggetarkan itu, dalam usia 79 tahun Inyiak Parabek, benar-benar menghadap RabbNya. Innalillahi wa inna ilahi rojiun. H.Abdul Gafar menyebutnya sebagai akhir yang baik, khusnul khatimah. “Ketika menghembuskan nafas terakhir masih terdengar seperti membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Maka menyebarlah berita duka itu ke seluruh pelosok Parabek yang termasuk dalam wilayah Desa Ladang Laweh II, Kecamatan Banuhampu, Sungai Puar, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebagai tokoh nasional, kepergian Syekh Ibrahim Musa juga menjadi kesedihan tersendiri bagi ummat Islam di Sumatera, bahkan seluruh pelosok negeri. Keesokan harinya, Jum’at 26 Juli 1963 (5 Rabi’ul awal 1383 H), jazad yang dimuliakan itu InsyAllah, dimakamkan di depan masjid Jami’ Parabek, setelah di shalatkan oleh umat Islam dengan imam Inyiak Muhammad Shiddik Birogo.

 Mulai dari yang akhir. Inyiak Parabek seperti sedang mulai memberikan pelajaran tentang totalitas dan konsistensi (istiqomah) dalam perjuangan melalui pendidikan dari episode akhir hidupnya. Syekh H. Abdul Gafar, sebagai salah satu murid Inyiak yang sangat dekat, membenarkan betapa beliau sangat mencintai pekerjaannya sebagai guru, pendidik bagi para santri dan masyarakat. Mengajar baginya adalah pengabdian totalitas yang harus dilakukan secara konsisten. Sejarah membuktikan, pada sebagian besar hidupnya, sejak kecil, remaja, dewasa, hingga tua, bahkan di penghujung hidupnya, Inyiak Parabek membaktikan diri untuk belajar dan mengajarkan Islam. Salah satu kalimat yang menggambarkan visi hidup yang kuat dari Inyiak Parabek terngiang-ngiang terus di  telinga Syekh H. Abdul Gafar: “Kalau boleh, Saya ingin diwafatkan saat mengajar…!” Subhanallah.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.