Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (11)

| Jasa Penulisan Buku Biografi | Mengemas Kisah Hidup dengan Jurnalisme Sastra | "Appreciate Your Life Story" |

Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (11)

Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (11)

Parabek Tak boleh Mati

Ditempa oleh kondisi yang keras dan mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya, membuat Inyiak Parabek terbentuk sebagai pribadi yang kokoh dan tidak gampang menyerah. Keberadaan Sumatera Thawalib yang tetap bertahan meski di masa sulit-sulit menunjukkan sikap tak mudah menyerah itu.

Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (11)Sebenarnya Sumatera Thawalib Parabek telah beberapa kali mendapat cobaan besar. Misalnya ketika terjadi Gempa Bumi tahun 1926 di Padang Panjang.  Madrasah porak poranda. Tapi Inyiak Parabek membuka lagi sekolah setelah delapan hari gempa terjadi. Walaupun dalam kondisi darurat kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan.  Ketika Masjid Parabek runtuh karena gempa, dan akan dibangun kembali, Mertua Inyiak Parabek, H Abdul Gani bermaksud akan menanggung semua biaya. Namun ditolah dengan halus Inyiak : “Biarlah masuk juga wakaf kaum muslimin seberapa adanya”. Sehingga masyarakat tetap merasa memiliki masjid itu.

Kemudian, kebakaran hebat pernah meluluhlantahkan madrasah pada tahun 1937 tepatnya 17-18 Oktober 1937/13-14 Sya’ban 1356 H. Semua bangunan sekolah terbakar, hanya masjid Jami’ Parabek yang selamat. Masjid Jami’ yang didirikan tahun 1931 itu pernah dikunjungi Soekarno pada 1942. Saat itu Soekarno datang dari pengasingannya di Bengkulu, didampingi Ibu Inggit. Inyiak Parabek guru dari H Abdul Munir Dt Palindih adalah guru agama Soekarno. Soekarno sebagai insinyur melihat-lihat  arsitektur masjid Parabek. Seperti dikisahkan Syekh Abdul Gafar, Inyiak Parabek berkata pada Soekarno : “kami baru membangun masjid, tolong diperiksa”. Soekarno lantas mengetok-ketok tiang-tiang masjid . “InsyaAllah masjidnya kuat, baik. Tidak apa-apa” katanya.  Alhamdulillah masjid itu masih berdiri kokoh hingga saat ini.           Kebakaran  dengan skala yang lebih kecil juga pernah terjadi tahun 1942 di Sumatera Thawalib Parabek dan berbagai kerusakan bisa segera diatasi.

Di zaman Belanda, walaupun ditekan pemerintah kolonial, Inyiak Parabek tetap bertahan, bahkan iming-iming tawaran bantuan  dari penjajah ditolak. Walaupun akibatnya kegiatan belajar diawasi, juga buku-buku yang mengobarkan semangat melawan penjajah di sensor dan tidak boleh diajarkan. Di masa penjajahan Jepang kondisi hidup sangat susah, banyak orang tua tidak mampu menangung biaya pendidikan menarik anaknya. Tapi Sumatera Thawalib Parabek tetap bertahan.

Syekh Abdul Gafar dan Ibu Hj Sa’adah sama-sama terus mengingat pesan Inyiak tentang konsistensi dalam berjuang mempertahankan Sumatera Thawalib. “Parabek harus jalan terus, tidak boleh mati,” demikian pesan Inyiak Parabek yang diingat mereka. “Jika sekolah sampai ditutup, akan sulit untuk membukanya kembali. Bahkan jauh sebelumnya, di tahun 1943, Inyiak Parabek pernah memberikan pesan mendalam pada perayaan menjelang seperempat abad Sumatera Thawalib yang  dihadiri oleh wali nagari se kecamatan Banuhampu “Wahai Wali Nagai Sebanuhampu, binalah sekolah Sumatera Thawalib sepeninggal saya,” ujarnya.

Semua pesan untuk mempertahankan Sumatera Thawalib Parabek, dalam kondisi sesulit apapun, didasari oleh landasan tanggung jawab yang kuat dari Inyiak Parabek sebagai pendidik yang memikirkan kelangsungan pendidikan Islam di masa depan.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: