Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (13)

By | 26/06/2019

Mambangkik Batang Tarandam

            Nama besar Inyiak Parabek dan Sumatera Thawalib Parabek-nya di masa lalu telah menjadi catatan emas dalam sejarah. Tokoh-tokoh besar di zamannya pernah dididik di sekolah ini, seperti Buya Hamka, H.Adam Malik, Buya Ghafar Ismail, H.M Daud Rasyidi Dt Palimo Kayo, Prof Dr Ibrahim Bukhari, KH Gafar Ismail, Prof Dr Hayati Nizar,MA, Prof Dr Amiur Nuruddin, MA, dan masih banyak lagi.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (13)

            Menurut Buya Deswandi, wakil pimpinan Sumatera Thawalib Parabek saat ini, kejayaan di masa lalu, sempat membuat madrasah ini terlena dan akhirnya tertinggal  karena perkembangan zaman. Masyarakat tidak lagi menjadikan madrasah ini sebagai pilihan utama untuk menyekolahkan putera-puterinya. Animo pendaftar menurun drastis, kualitas pendidikan juga menurun. Ir H. Novizar Zen, Ketua Yayasan Syekh Ibrahim Musa saat ini menilai pada masa meredupnya Sumatera Thawalib Parabek, kondisinya masih berukutat pada masalah yang sangat mendasar seperti : masalah gedung yang belum tertata, masalah kedisiplinan, masalah status kepegawaaian guru, dan sebagainya.  Saat itu kondisi pesantren tidak begitu cerah, gurunya lebih banyak guru tidak tetap, mengajar pada jam-jam tertentu saja. Para guru karena tuntutan kehidupan harus mengajar  dimana-mana, dan pada sisa-sisa waktunya  mengajar di Parabek. “Ini kan susah untuk diajak bekerja dengan benar dan sungguh-sungguh,” kata Novizar.

            Menurut dr Asri Moeis SpOG, salah seorang cucu Inyiak Parabek, dan Pembina Yayasan Syekh Ibrahim Musa,  meredupnya pesona Sumatera Thawalib memang meruapakan eranya zaman. Perhatian masyarakat terhadap agama sebagai kehidupan sehari-hari juga semakin menurun. Hal ini juga disebabkan oleh lemahnya sumber daya manusia yang mengelola pesantren, sehingga menyebabkan penurunan kualitas secara umum. Minat orang-orang ingin memasukkan anaknya ke madrasah ini juga berubah. Otomatis kualitas siswa yang masuk juga turun. Menurutnya, dulu Sumatera Thawalib menjadi bagus, karena siswa-siswa masuk yang adalah anak-anak terpintar di sana. “Ketika minat masyarakat berubah, kualitas raw material madrasah juga menurun,” kata dr Asril.

dr Asril juga  tidak begitu sependapat bila harapan tentang lulusan Sumatera Thawalib Parabek ditempatkan  terlalu tinggi. “Kita sering menempatkan parabek terlalu tinggi, mereka kan hanya setingkat SLTA, masyarakat mengharapkan terlalu lebih. Lulusan SMA kan bisa apa sih… kalau lulusan Parabek diharapkan terlalu tinggi. Kalau dulu yang menilai kan memang masyarakat yang juga masih rendah pendidikannya.” urai dr Asril. Setelah tahun 1963, era yang dihadapi sudah berubah. Tingkat harapan terhadap pendidikan semakin tinggi.  “Sebenarnya bukan Parabeknya yang mundur, tapi masyarakatnya yang sudah berbeda,” katanya lagi. Sebenarnya, Parabek saat ini lebih tepat bila dijadikan sebagai jembatan (bridging) untuk mencapai cita-cita tertinggi para siswa. “Kalau ingin mendidik ulama besar itu terlalu jauh. Kalau guru-gurunya jadi agent of change masih wajar, tapi kalau siswanya hanya semacam bridging saja,” tuturnya memberi analisis.

            Dari sinilah muncul istilah “mambangkik batang tarandam”. “Konsep ini terbangun dari keterlenaan, setelah jayanya Parabek, sempat terlena, bergantung pada kejayaan masa lalu, kita ketinggalan. Sudah terbenam kejayaannya. Ini yang ingin kita bangkitkan,” kata Buya Deswandi.

             Syekh Khatib Muzakir, selaku pimpinan Sumatera Thawalib Parabek saat ini menjelaskan “mambangkik batang tarandam” sebagai upaya untuk bangkit mencapai lagi apa pernah dicapai oleh generasi pendahulu. Termasuk menjadikan kembali insititusi pesantren sebagai pusat ilmu yang menjadi rujukan masyarakat. “Kalau ilmu sudah dimiliki segala sesuatu akan diraih,” katanya berfilosofi. Keinginan untuk mencetak ulama intelektual di kemudian hari  menjadi cita-cita terbesar madrasah ini. “Tentu ulama yang berilmu dan kreatif, kalau di masyarakatnya ia tidak ikut menyelesaikan masalah itu bukan ulama,” jelas Syekh Muzakkir. Posisi Sumatera Thawalib yang pernah menjadi pusat rujukan keagamaan di Sumatera Barat akan dibangkitkan kembali. “Kalau bisa ketok palunya di Parabek,” tambahnya. Semangat tafaqquh fid din juga akan dibangkitkan dengan pemahaman keagamaan yang benar. Itulah yang menjadi identitas parabek : memahami seluk beluk agama secara mendetail. Keunggulan Parabek dalam bidang ilmu alat, nahwu sharaf, qawaid, balagoh, ushul, musthalah hadist, dan seterusnya akan terus dipertahankan. Mambangkik batang tarandam juga berarti mengembalikan spirit dan inspirasi Inyiak Parabek. “Inyiak parabek sangat mengutamakan masalah keilmuan, mantap di seluruh lininya. Membangkitkan kembali nilai-nilai parabek yang paling penting adalah isinya. Bukan sekedar fisik,” urainya.

Ir H. Novizar Zen, Ketua Yayasan Ibrahim Musa menjelaskan, sisi yang tak kalah penting dari kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek adalah bahwa  sekolah ini sudah melahirkan banyak tokoh-tokoh besar di masa lalu. Ini adalah potensi . “Saya melihat bahwa sekolah ini punya potensi untuk dibesarkan. Ini yang membuat saya tertarik untuk bergabung,” kata Novizar. Novizar Zen adalah seorang professional yang tidak memiliki latar belakang pendidikan agama, tetapi sangat tertarik dengan msalah pendidikan. Hal ini  yang membuatnya terpanggil untuk berkiprah dalam yayasan. Kekuatan Sumatera Thawalib Parabek pada pada ilmu alat, penguasaan bahasa Arab, nahwu sharaf, dan sebagainya, juga potensi yang bisa dikembangkan. Alumni Parabek sudah dikenal kuat dalam menentapkan hukum, karena penguasaan ushul fiqh dan fiqh, seperti halnya keunggulan Inyiak Parabek sebagai ulama yang unggul dalam hukum Islam. Kalau ada masalah keagamaan masyarakat bertanya ke Parabek. Potensi dukungan masyarakat, alumni, pemerintah, hingga dunia usaha juga sangat besar untuk mendukung bangkitnya lagi Sumatera Thawalib Parabek.

Taufik Hidayat, salah seorang alumni tahun 2001 madrasah ini sangat berkeyakinan sekolahnya bisa bangkit lagi setelah mengalami penurunan prestasi. “Sistem pendidikan yang khas, dorongan untuk terus berilmu, berorganisasi hingga menekankan kemandirian, merupakan modal besar untuk membangkitkan kembali pesantren ini,” kata Taufik Hidayat yang memilih berwirausaha setelah lulus dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Menurutnya bekal yang ia dapatkan di Sumatera Thawalib Parabek sangat berguna ketika kuliah hingga berkiprah di masyarakat saat ini.

Semangat kebangkitan semakin disadari oleh para penerus Sumatera Parabek masa kini. Tekad sudah ditancapkan, strategi dirancang, langkah aksi pun diambil. Hasilnya geliat kebangkitan sudah semakin terasa kembali di kampus “calon ulama intelektual” itu.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:


0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.