Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (14)

Semangat Berbenah

            Salah satu strategi pengembangan Sumatera Tawalib Parabek untuk bangkit lagi meraih cita-cita besarnya adalah dengan melibatkan semua komponen potensi yang dimiliki madrasah. Alumni, masyarakat sekitar Parabek, hingga warga Minangkabau di perantauan diajak untuk bersama-sama memikirkan dan memajukan warisan peninggalan Inyiak Parabek itu. Terutama mereka yang benar-benar berkomitmen terhadap peningkatan kualitas pendidikan Islam.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (14)

            Selain itu pembenahan internal dimulai dengan komitmen tinggi dan kerja keras. Ir H. Novizar Zen, Ketua Yayasan Ibrahim Musa, menjelaskan pembenahan dimulai dari sumber daya manusia, terutama guru. Guru merupakan komponen terpenting dalam sebuah proses pendidikan. Semangat “Mambangkik Batang Tarandam” yang telah dicanangkan, dimulai dengan mengembangkan kualitas guru. Status kepegawaian guru yang sebelumnya lebih banyak yang besifat tidak tetap, dirombak total. “Semua dijadikan guru tetap, tidak ada lagi guru jam-jam-an” kata Novizar. Walaupun hal ini mengandung konsekwensi biaya, karena ketika pembenahan itu dilakukan sekitar tahun 1998, kondisi keuangan madrasah sangat memprihatinkan. Sumber keuangan paling banyak berasal dari SPP dan uang pembangunan, itu pun jumlahnya sangat minimal. Sebagai pengurus yayasan bidang pendidikan waktu itu, Ir Novizar Zen memobilasi rekan-rekannya sesama profesional di Jakarta untuk membantu.  “Saya menghubungi teman-teman di Jakarta, untuk membantu menggaji guru, 1 orang 1 guru, saya minta waktu 2 tahun,” ujar Novizar Zen yang juga seorang professional yang tinggal di Jakarta. Ketika itu masing-masing orang menyumbang Rp 400 ribu per orang untuk menggaji guru selama 2 tahun. Terdapat sekitar 10-15 orang yang mau membantu secara rutin setiap bulannya. Persoalan gaji guru selama 2 tahun itu berhasil diatasi.

“Kami penuhi penuhi janji itu. Dalam waktu 2 tahun kita benahi kepegawaian, materi ajar, kurikulum, target-target dibuat untuk meningkatkan kualitas. Sistem keuangan juga dibenahi. Setelah kualitas mulai beranjak naik, SPP dan uang pembangunan juga dinaikkan,  sehingga dalam 2 tahun itu bisa mandiri,” urai Novizar Zen mengenai strateginya.

Pengurus yayasan di era baru ini mencoba mengelola sekolah dengan budaya yang ada di perusahaan. “Di setiap perusahaan bisnis setiap orang ada targetnya. Sebagai perusahaan ada target pasar, target  biaya, dan seterusnya yang dirumuskan setiap tahun. Dengan target yang jelas tidak perlu ada persaingan sesama anggota tim, karena targetnya beda-beda,” kata Novizar. Di Sumatera Thawalib Parabek, strategi ini juga diterapkan. Semua unsur yang terlibat di madrasah diminta untuk membuat target-target yang akan dilakukan selama 1 tahun. Termasuk di dalamnya target nilai yang harus dicapai, target kehadiran, dan sebagainya. Targeting system ini kemudian menjadi dasar bagi yayasan untuk memberikan reward and punishment. “Semuanya menjadi bergairah luar biasa,” kata Novizar mengingat masa-masa awal pembenahan madrasah. Kenaikan gaji bagi para guru juga didasarkan pada target-target yang telah dibuat. Jika tidak mencapai target dalam masa 2 tahun, akan dianggap mengundurkan diri. Begitu kesepakatan dalam kontrak kerja dengan guru ketika diangkat menjadi guru tetap. Penerapan sistem target ini membuat seseorang tidak perlu berbaik-baik dengan siapa-siapa, dengan kepala sekolah, ketua yayasan, atau siapapun, untuk mendapatkan penghargaan . Kalau target tercapai penghargaan otomatis akan diberikan, begitu juga sebaliknya, kalau tidak tercapai telah ada konsekwensinya. Kebijakan ini membawa perubahan semangat kerja yang luar biasa, walaupun ada guru-guru yang tidak terbiasa dengan sistem target, merasa tertekan dan akhirnya keluar. “Ya tidak apa-apa,” kata Novizar.

Novizar Zen juga sangat menyadari bahwa kebijakan yayasan untuk menerapkan sistem target dalam bekerja di madrasah mengandung resiko hilangnya nilai kejuangan. Orang bisa saja semakin hari semakin bersifat materialis, karena pencapaian target didorong oleh keinginan mencapai materi. Tetapi ia mengingatkan, insitusi pendidikan Islam tidak boleh selalu bersembunyi di balik kejuangan, “Berjuang, berjuang tapi nggak makan kan repot,” katanya.  Setiap guru harus hidup dengan layak, menyekolahkan anaknya ke sekolah yang bagus, juga bisa menguliahkan anaknya.  “Di Parabek awal tahun 1998, salah seorang Ustadz paling senior saya tanya berapa terima gaji setiap bulan, ia mengaku tidak tahu berapa gajinya.” Kisah Novizar. “Saya datang terima ke sekolah, terima amplop, pulang saya serahkan lagi ke isteri di rumah, jadi tidak pernah tahu gajinya berapa.” Katanya menirukan sang Ustadz. Setelah dicek gajinya ternyata sekitar Rp 75.000. Sangat minim, saat itu untuk hidup layak yayasan harus memberikan 10 kali lipat. “Bisa dibayangkan kalau gajinya Rp. 75.000 padahal kebutuhan hidupnya Rp. 750.000 di masa itu, maka yang Rp. 675.000 akan dicari  diluar. Dan itu yang terjadi, guru mengajar sebentar, kemudian pergi ke sawah atau ke kebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan model guru tetap, guru kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, harus di sekolah, tentu dengan gaji yang layak.” Jelas Novizar panjang lebar.

Walaupun tidak memiliki latar belakang pendidikan agama dan bukan alumni Sumatera Thawalib Parabek, Novizar Zen memiliki komitmen tinggi untuk beribadah melalui jalur pendidikan. Ia adalah lulusan Jurusan Teknik Kimia UGM dan memilih berkarir di bidang perminyakan. “Ini amanah, InsyaAllah saya menikmati prosesnya , misalnya dari sisi fisik semakin bagus, gurunya jumlahnya semakin meningkat, pendidikan semakin bagus, semuanya sangat menyenangkan untuk dinikmati,”  katanya menjelaskan motivasinya terjun di dunia pendidikan.

Ketertarikan Novizar di dunia pendidikan berawal dari ketika anak pertamanya sangat berkeinginan masuk sekolah Islam AshSofa di Pekan Baru, sedangkan Ia menginginkan anaknya masuk ke sekolah lain yang tergolong ternama di kota itu. Tapi sang anak  tetap tidak mau dan berontak, hanya mau ke Asshofa. Awalnya Novizar tidak pernah mendengar, tidak pernah tahu, bahkan tidak pernah terlintas tentang AsShofa. “Ya udah silahkan, tapi begitu saya lihat sendiri, saya kaget  melihat kondisi sekolah yang masih sangat minim dan memprihatinkan, karena baru 3 tahun berdiri.” Lantas Novizar pun diajak bergabung ke Yayasan AsShofa di bidang pendidikan. Di AsShofa pun perjuangan untuk mengembangkan sekolah dimulai dengan kerja keras membangun sistem manajemen, target-target dan sebagainya. “Sampai orang menyadari, memahami, dan meyakini, bahwa  semua orang harus kerja keras untuk bisa memajukan sekolah itu,” katanya lagi. Pimpinan yayasan terus memberi semangat dan konsisten dengan apa yang dikatakan, serta dijalankan dengan baik. “Kita tidak bisa merima guru-guru yang tidak terbiasa dengan target, tidak ada resiko tidak mencapai target, yang penting tugas ngajar selesai, ya sudah. Kalau kita di sekolah-sekolah swasta tidak bisa seperti itu,” cerita Novizar tentang pengalamannya. Yayasan Asshofa  saat ini berhasil menjadi penyelenggara sekolah Islam unggulan dari jenjang TK hingga SMA di Pekan Baru. Pengalaman Novizar Zen dan kawan-kawannya di Yayasan Asshofa Pekan Baru coba diterapkannya ketika diajak untuk bergabung di Yayasan Syekh Ibrahim Musa.

            Selain membenahi status kepegawaian, para guru juga didorong untuk meningkatkan kualitas dirinya. “Untuk SDM, kita mengirimkan guru untuk training ke mana pun, mengadakan pelatihan sendiri, dan seterusnya.Kita tidak pernah berhenti untuk itu, ke LIPIA (untuk bahasa Arab), ke sekolah-sekolah untuk mata pelajaran tertentu dan sebagainya,” jelas Novizar.

            Semua itu dilakukan karena yayasan menyadari pentingnya sumber daya manusia. “Mendapatkan guru-guru yang benar-benar berkualitas tinggi itu susah, karena kualifikasi yang kita inginkan juga tinggi. Memiliki kemampuan berbahasa asing, baca kitab, dan sebagainya. Keuntungannya guru-guru kita sangat mudah kita arahkan, semangat belajarnya tinggi,” ujar Novizar sambil member  ilustrasi tentang tantangan yang dihadapi sekolah swasta terkait SDM.

            “Sekolah swasta ini kan susah posisinya susah,” katanya. Negara meyediakan dana besar-besaran untuk sekolah negeri, pengadaan guru-guru negeri juga besar-besaran tiap tahun. Seringkali hal ini menggoda guru-guru sekolah swasta. “Kami kemudian menerapkan di yayasan bahwa guru yang diketahui mendaftar untuk seleksi di lembaga lain, termasuk menjadi CPNS akan dianggap mengundurkan diri,” tambahnya. Hal ini menjadi kesepakatan dengan guru yang bersangkutan ketika awal masuk dalam kontrak kerja. “Kenapa begitu, ada yang bilang kejam lah. Begini filosofinya, kita hanya mau memperkerjakan orang-orang terbaik, kalau dia ikut seleksi di tempat lain, kemungkinannya hanya ada 2 : lulus atau tidak. Kalau lulus, berarti dia akan pergi, kalau nggak lulus, berarti dia bukan yang terbaik, jadi untuk apa dipertahankan. Buktinya test di tempat lain nggak lulus,” jelasnya lagi.

Hal ini ternyata efektif untuk mencegah keluar masuknya guru, karena sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Hanya orang-orang yang sangat yakinlah yang benar-benar pergi. “Kalau tidak setiap pembukaan CPNS, semua orang akan adu nasib, masuk syukur, nggak apa-apa, bisa kembali lagi. Ini akan repot, kita akan kehilangan guru terus. Kalau ada yang ketahuan akan diberhentikan, kami tidak main-main dalam hal ini. Di Parabek pernah ada yang curi-curi mendaftar CPNS,  ya langsung diberhentikan,  mau gimana lagi, kalau tidak akan lebih banyak lagi yang seperti itu,” jelasnya lagi.

Selain persoalan SDM, strategi kebangkitan Sumatera Thawalib dikembangkan dengan memberi perhatian yang besar dalam persoalan kurikulum dan sistem pembelajaran.Kurikulum yang dikembangkan menurut Buya Deswandi, wakil pimpinan madrasah, memakai yang lama tidak meninggalkan yang baru. “Mengambil kebijakan lama yang baik, tidak meninggalkan yang baru yang lebih baik. Kita cangkokkan lagi ke belakang. Keistimewaan Syekh Ibrahim Musa selalu  menggunakan kitab yang pasti ada penjelasan (syarah)-nya. Kitabnya digunakan oleh siswa, syarahnya dipakai oleh guru. Kalau guru mengajar tanpa ada syarahnya, sama saja bunuh diri,” jelasnya. Tradisi membaca kitab, muzakarah (diskusi), munaqosah (ujian/presentasi) terus dikembangkan dan diintegrasikan dalam kurikulum.

Kurikulum yang dikembangkan juga berprinsip integrasi keilmuan. “Kalau biasanya di tempat lain, ilmu agama dan ilmu umum seakan-akan terpisah, maka disini diintegrasikan. Guru matematika misalnya bisa membawakan hadist, bisa bicara asbabul nuzul sebuah ayat dan sebagainya. “Kalau ilmu agama hanya berdiri sendiri-sendiri jadi tidak kuat, misalnya kalau ilmu tafsir hanya sekedar tafsir saja jadi kurang kuat, bisa masuk ke qowaidnya, hadist masuk ke tauhid, dan sebagainya,” jelas Buya Deswandi secara rinci.

Secara operasional kurikulum yang dipakai adalah perpaduan antara kurikulum Departemen Agama, Departemen Pendidikan Nasional dan Identitas Parabek yaitu penguasaan ilmu alat (ilmu yang berguna untuk memahami tulisan arab gundul/tanpa baris yang menjadi cirri kitab Islam klasik berbahasa Arab). Penguasaan bahasa Inggris dan Arab secara aktif juga menjadi target pencapaian dalam kurikulum yang diterapkan. Pada tahun ke-1 ditekankan pada penguasaan bahasa Arab dan pembinaan ibadah, Bahasa Arab diajarkan 12 jam/minggu, 2 jam/hari. Pada kelas 2, seluruh pelajaran agama telah diajarkan dalam Bahasa Arab karena sudah menjadi bahasa keseharian siswa. Pada tahun ke-2 penekanannya pada Bahasa Inggris, sehingga pada tahun ke-3 siswa sudah mampu berbasa Arab dan Inggris secara aktif. Teknologi modern dalam pembelajaran juga semakin digiatkan. Pemanfaatan komputer dan internet, laboratorium, dan sebagainya, untuk mendukung kemajuan belajar siswa terus difasilitasi.

Semangat berbenah sebagai bagian usaha untuk merealisasikan kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek, terus diusahakan pada berbagai bidang. Hasilnya pun mulai terasa.  Kebangkitan itu mulai menggeliat.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Perlu bantuan? WA kami sekarang