Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (15)

By | 28/06/2019

Spirit Inyiak Parabek dalam Kebangkitan

            Gelombang kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek setelah 100 tahun semakin terasa. Menanggapi fenomena ini, Syekh Khatib Muzakkir menekankan agar kebangkitan itu diarahkan pada hal-hal yang bersifat isi dan subtansi, tidak sekedar kulit dan fisik. “Pengembangan fisik penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah kebangkitan dalam arti yang sesungguhnya. Semangat tafaqquh fid din bisa kembali tumbuh, ilmu hanya untuk ilmu,” terangnya dalam perbincangan yang hangat ba’da Shubuh di Masjid Jami’ Parabek.          Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (15)

            Ir H Novizar Zen selaku nakhoda Yayasan Syekh Ibrahim Musa era 1 abad, sepakat dengan Syekh Khatib Muzakkir. Menurutnya semangat tafaqquh fi din akan digerakkan pada semua lini. Untuk guru-guru, model Ma’had Ali akan dibangkitkan kembali.. Program itu berupa kegiatan pengkajian ilmu-ilmu keagamaan yang menjadi ciri khas Parabek dengan berguru pada Syekh-Syekh yang masih dimiliki Sumatera Thawalib Parabek, atau di tempat lain. “Ada kekhawatiran kita kehilangan ulama-ulama besar yang mumpuni ilmunya. Di Parabek misalnya ada Syekh Khatib Muzakkir yang sangat ahli dalam bidang Nahwu Shorof. Untuk itu kita programkan untuk menularkan ilmunya ke guru-guru muda. Kita targetkan semua guru-guru kita harus paham ilmu-ilmu yang menjadi ciri khas Parabek. Misalnya diprogram dalam 2 tahun ,  guru-guru mengikuti pendalaman bidang-bidang ilmu agama dengan berguru pada Syekh kita,” ujarnya bersemangat. Melalui program ini ada yang belajar Nahwu-Shorof, Balaghoh, Ushul Fiqh, dan seterusnya. “Kalau ada ilmu-ilmu yang kita nggak punya gurunya, adanya misalnya di Pariaman, coba datangkan beliau ke sini, atau guru-guru kita kirim ke sana. Ma’had ali yang kita terapkan bukan program gelar, tapi keilmuan,” tuntas Novizar.

            Selain mengembangkan kualitas Madrasah Parabek (Tsanawiyah dan Aliyah, setingkat SMP dan SMA), dalam pandangan Ir H. Novizar Zen kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek harus diarahkan pada bangkitnya insitusi Parabek sebagai rujukan pada berbagai masalah keagamaan. “Kalau yang namanya siswa, ya lulusan setingkat SMA, masih jauh tingkat keilmuannya, mereka akan masuk IAIN, atau perguruan tinggi lain, dalam dan luar negeri, dan ini semakin meningkat kualitasnya.” katanya. “Kami lebih tertarik dengan pengkaderan ulama-ulama, sebagai rujukan. Ada persoalan hukum misalnya, orang akan kembali datang ke Parabek. Sekarang ini Sumatera Barat semakin lemah dalam hal itu, sangat berbeda kondisinya dengan era-era lalu,” ujarnya lagi. Usahanya adalah dengan mengaktifkan lagi forum-forum muzakarah keilmuan di Parabek. Sehingga cahayanya bersinar kembali.

            Dalam pandangan Ir Susi Zaharawati Moeis, MT, Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Ibrahim Musa, kebangkitan Sumatera Parabek hendaklah berangkat dari spirit keIslaman yang telah diteladankan Inyiak Parabek. “Kenapa misalnya alumni Parabek tidak begitu menampakkan ciri khas ke-parabek-annya,” katanya. Hal ini ditunjukkan dari pola fikir, semangat juang, hingga cara berperilaku sehari-hari yang tampak belum total dalam berIslam. “  Saya merasa ada yang salah di dalam. Kita harus kembalikan. Saya yakin, sebenarnya mereka sudah punya kunci surga, punya ilmu yang bermanfaat,” katanya.

            Untuk itu, menurutnya Kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek harus digerakkan oleh inspirasi yang telah diteladankan oleh Inyiak Parabek. Konsep keberkahan hidup yang pasti  dimiliki oleh Inyiak Parabek harus ikut mendorong proses kebangkitan ini. “Allah berjanji jika kita membereskan urusan agama Allah, maka Allah akan membereskan urusan kita.” Jelasnya optimis. Sebagai penangungjawab bidang pendidikan, dirinya mengaku untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mengembalikan ruhiyah dan cara pandang para pengelola yayasan dan para guru,hingga para siswa  di Sumatera Thawalib. “Bagaimana mereka bisa ikhlas dalam bekerja dan belajar, berilmu  sampai ke hati. Bukan ilmu kalau tidak sampai ke hati,” terangnya lagi.  Ilmu harus bisa mendekatkan diri pada Allah Ta’ala sebagai bentuk penghambaan total manusia. Seperti yang pernah ditulis Ahmadi dalam Paradigma Pendidkan Islam. Tujuan pokok pendidikan Islam adalah  untuk lebih memahami dan menghayati kebijaksanaan Allah sebagai Rabbul ‘Alamin dalam membimbing hambaNya, dan untuk merefleksikan pertautan nilai-nilai transendental ilahi dengan realitas pendidikan.

            Spirit keikhlasan dalam beramal, mengutamakan takwa, santun dan lapang dada, hingga totalitas dalam mengabdi dan berjuang menjadi dasar dari kebangkitan Sumatera Thawalib Parabek yang dicita-citakan. Termasuk juga kebangkitan yang digerakkan dengan tanpa meninggalkan masyarakat dan bertumpu pada kemandirian.

            Tidak meninggalkan masyarakat bahkan berkhitmat untuk masyarakatnya adalah spirit yang luar biasa dari Inyiak Parabek. Saat ini pun kebesaran nama Inyiak Parabek masih sangat melekat di hati masyarakat. Hal ini pula lah yang mendorong masyarakat untuk berpartisipasi secara ikhlas dalam setiap usaha pengembangan madrasah ini. Menurut Ir H.Novizar Zen, selama ini partisipasi masyarakat sangat besar. Inyiak  Parabek dan Sumatera Thawalib Parabek-nya memiliki ikatan historis dan emosional yang sangat besar dengan masyarakat. Berbagai bantuan  untuk pembangunan, baik dari pemerintah, swasta, individu, bahkan berasal dari negeri jiran Malaysia, selalu mengalir. “Karena banyak sekali orang meyakini, sekolah ini bisa berkembang dan amanah sebagai tempat beramal,” kata Novizar.

            Buya Deswandi juga menjelaskan bahwa pendidikan di madrasah ini menekankan prinsip

Kampus di Kampung, Kampung di Kampus (Campus in Community, Community in Campus). Desa Parabek telah menjadi kampus besar Madrasah Thawalib Parabek. Masyarakat dan santri berbaur dalam hubungan yang saling menguntungkan. Siswa jadi terampil bermasyarakat, mengenal adat istiadat, menjadi imam dan khatib di masjid-masjid, dan sebagainya.”Kampus ini seperti tidak ada batasnya, rumah-rumah masyarakat juga bagian dari kampus,” kata Buya Deswandi. “Dukungan masyarakat sangat nyata, bahkan kalau ada anak-anak yang bolos, sembunyi di kampung, pasti ketahuan, karena masyarakat terlibat dalam proses pendidikan ini. Masyarakat juga merasakan dampak pendidikan,” katanya lagi. Kalau ada yang meninggal anak-anak ikut mengaji, shalat jenazah diikuti seluruh siswa, anak-anak ikut menghidupkan seluruh mushalla. “Ini tradisi surau, rumah saya dari sekolah 200 m, dari surau 50 m. Tapi oleh orang tua diminta tinggal di surau, ini pendidikan surau,” kata Buya Deswandi lagi. Masyarakat juga terlibat langsung dalam berbagai program sskolah. “Acara perpisahan diikuti oleh masyarakat luas. Kalau ada tamu, masyarakat juga hadir. Kami jadi sekolah berbasis masyarakat terbaik di tahun 2000an. Dari segi pendanaan masyarakat pun membantu. Kalau dari SPP tidak cukup untuk operasional. Maka masyrakat baik yang ada di sekitar maupun diperantaun ikut membantu, ada yang jadi donator rutin, ada yang berkala setiap Ramadhan,” jelas Buya Deswandi.

            Hal ini senada dengan pendapat Nawwal Ath-Thuwairaqi dalam  Sekolah Unggulan berbasis Sirah Nabawiyah : “Sekolah tidak mungkin bisa hidup bila jauh dari masyarakat dimana ia berada. Kurikulum tidak akan pernah berperan sebagai poros yang dikelilingi. Bahkan, manusia di lingkungan sekolah akan menjadi poros bagi suatu pekerjaan dalam manajemen sekolah. Hendaknya sekolah mengembangkan interaksi sosial yang baik, yang mengikat seluruh individu yang bekerja di dalam masyarakat sekolah itu.”

Hanya saja, menurut Buya Deswandi, arah kebangkitan Sumatera Thawalib ke Ke depan harus menyertakan fungsi agen perubahan agent of change bagi masyarakat. “Misalnya ada fatwa di sini bahwa tidak boleh merokok maka seharusnya semua warung-warung di sekitar sini tidak menjual rokok. Tapi kita belum sampai ke sana,” ujar Buya Deswandi. Kebangkitan juga diarahkan agar masyarakat menjadikan pesantren sebagai rujukan utama. “Pesantren tidak hanya mengurus siswanya yang berumur 12-18, tapi juga perkembangan ummat. Itu dulu yang dilakukan Inyiak Parabek. Sekarang itu belum optimal,” katanya lagi.

Selain tidak meninggalkan masyarakat, dan menjadikan masyarakat sebagai poros kebangkitan yang utama, Sumatera Thawalib Parabek juga terus melanjutkan spririt kemandirian yang telah sejak lama dijalankan Inyiak Parabek. Inyiak Parabek sangat menekankan kemandirian pada para murid-muridnya. Sejak tahun 1921 telah didirikan koperasi pelajar di Sumatera Thawalib Parabek, berupa penyediaan kedai untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar.

            Termasuk melanjutkan spirit kemandirian yang ditanamkan Inyiak Parabek. Dr Ana Nahdya Abrar MES, akademisi dari Universitas Gajah Mada,  memiliki kesan tersendiri tentang kemandirian para lulusan Parabek. Menurutnya, di tanah kelahirannya, Kampung Birogo Puhun, Aur Birogo Tigo Baleh, Sumatera Barat, banyak warganya yang menjadi lulusan Sumatera Thawalib Parabek dan dikenal sangat mandiri. “Mereka mampu hidup mandiri dengan berbisnis, tapi tetap memberikan pencerahan agama pada masyakat,” kata Abrar yang ayahnya juga lama mendapat pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek. Saat ini pun kemandirian, merupakan salah satu ciri yang terus dikembangkan pesantren, melanjutkan apa yang sudah dicontohkan Inyiak Parabek. Pesantren melatih para muridnya untuk mandiri dengan menyediakan Tempat Pelatihan Usaha Santri ( TPUS). Selain itu koperasi juga dikembangkan untuk melayani masyarakat dengan berbagai bentuk bidang usaha seperti simpan pinjam, warung serba ada, konveksi, pengadaan barang, dan sebagainya.  Tahun 1996 meraih predikat Koperasi Pesantren Terbaik se Sumatera Barat. Diharapkan kemandirian dapat menjiwai kehidupan para santri untuk mendukung perjuangannya di masyarakat, kelak.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.