Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (2)

By | 15/12/2015

Bermula dari Keluarga Pecinta Ilmu

Syekh Ibrahim Musa dilahirkan di Parabek, Banuhampu, Bukittinggi, pada tanggal 12 Syawal 1301 H bertepatan dengan 1884 M. Ada ahli yang menyebut tanggal persisnya : 15 Agustus 1884. Penyebutan kata “Syekh” menunjukkan penghormatan masyarakat Sumatera Barat, seperti dijumpai dalam bahasa Arab, terhadap tokoh ulama yang memiliki ilmu keIslaman yang mendalam. Seperti halnya “Kyai” pada masyarakat Jawa, seorang Syekh di Sumatera merupakan pemuka Islam yang biasanya memiliki pesantren atau dijadikan panutan dan tempat bertanya masyarakat tentang jalan hidup yang benar.

Dilahirkan dan dibesarkan pada sebuah keluarga yang berkomitmen kuat untuk melaksanakan Islam secara kaffah, Syekh Ibrahim Musa sejak kecil mendapatkan didikan Islam yang kental. Ayahnya seorang ulama yaitu Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al-Qartaway yang dikenal juga dengan sebutan “Inyiak Gaek”, dan ibunya bernama Maryam Ureh. Di masa kecil beliau lebih dikenal dengan nama Luthan, dengan suku Pisang Nagari Parabek. Kelak, setelah berhaji, seperti kebiasaan masyarakat untuk berganti nama setelah berhaji, nama kecil itu diganti menjadi Ibrahim, lengkapnya Ibrahim ibn Musa. Musa adalah penisbahan pada nama ayahnya. Sebutan “Inyiak Parabek” lebih populer di masyarakat hingga kini, sebagai bentuk penghormatan bagi beliau. Kata “Inyiak” dalam masyarakat Minang merupakan panggilan bagi pria yang dituakan. Mirip dengan penggunaan “Kakek” dalam Bahasa Indonesia, atau “Mbah” dalam bahasa Jawa. “Inyiak Parabek” dalam hal ini dimaknakan sebagai “Syekh” atau ulama yang dituakan dan dihormati. Parabek tentu saja menunjukkan daerah asal beliau.

Menarik untuk mencermati, bagaimana pengaruh keluarga yang taat beragama sangat berbekas pada karakter dan keshalihan Syekh Ibrahim Musa di kemudian hari. Jayusman Dt.Mangkudun, alumnus Sumatera Thawalib Parabek (1987-1993), pernah mengkaji secara ilmiah dengan cukup komprehensif bagaimana perjalanan hidup Syekh Ibrahim Musa sejak kecil, hingga mampu melahirkan berbagai pemikiran berbobot dalam bidang hukum Islam. Dalam catatan Jayusman, keluarga Syekh Ibrahim Musa mendorong dengan kuat agar beliau menjadi seorang ahli agama. Dukungan ayah dan ibu yang memiliki komitmen keagamaan yang kuat ditambah dengan status sosial ekonomi yang cukup mapan, membuatnya berhasil mendapatkan pola pendidikan terbaik sejak kecil. Mochtar Naim, ilmuwan Sumatera Barat lainnya, juga pernah mengkaji silsilah dan riwayat pendidikan pendiri Madrasah Thawalib Parabek itu. Ibrahim kecil memang diasuh dan dibina oleh ayahnya yang ulama secara langsung. Ayahnya yang ulama jelas menginginkan Ibrahim kecil kelak menjadi ulama seperti dirinya, bahkan melebihinya dari segi keilmuan dan pengaruh. Pembiasaan dalam kehidupan yang dipandu oleh nilai-nilai Islam telah dimulai sejak kecil. Kebiasaan untuk menjadi pencinta ilmu sudah tersuasana dalam keluarga besar Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al-Qartaway. Kegiatan belajar dan mengkaji Islam menjadi pemandangan sehari-hari dalam keluarga itu. Apalagi ketokohan Syekh Muhammad Musa di kampungnya, membuatnya sering menjadi sumber referensi masyarakat sekitar.

Setelah mendapatkan gemblengan karakter dan dasar-dasar keilmuaan dari ayahnya, saat berusia 13 tahun, Ibrahim kecil mulai dilepas untuk berguru pada para ulama di Sumatera Barat. Kebiasaan para ulama di ranah Minang pada waktu itu memang mengirimkan anak-anaknya, berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya, untuk berguru pada para ulama yang ada di berbagai surau. Metode mempelajari agama saat itu memang mengharuskan seorang santri mendatangi guru atau para Syekh sesuai dengan spesialisasi masing-masing. Untuk belajar Fiqh, maka murid itu akan mendatangi ahi Fiqh, Ilmu Nahwu Shorof pada ahlinya, begitu seterusnya. Menurut catatan Mochtar Naim, Ibrahim kecil kepada berbagai guru di banyak surau, seperti pada Haji Abdul Malik atau dikenal juga dengan sebutan Tuanku Mato Aia,  Tuanku Angin di Batu Tapa, Syekh Abbas di Ladang Laweh, Syekh Abdul Samad di Biaro, Ampek Angkek Canduang, Syekh Jalaludin Al Kusai di Sungai Landai, Syekh Abdul Hamid di Suliki, Payakumbuh. Semua guru dan ulama tersebut memiliki bidang keahlian keagamaan masing-masing yang khas.

Dari berbagai sumber, Jayusman Dt.Mangkudun mencatat, bahwa didorong oleh keinginan belajar yang kuat, Inyiak Parabek menjadikan daerah Perkandangan di Pariaman sebagai tujuan pertamanya menuntut ilmu. Sekitar satu tahun dihabiskannya mendalami pelajaran Nahwu dan Sharaf di Surau Syekh Mata Air. Walaupun belum begitu mendalam, pelajaran yang menjadi kunci pembuka samudera ilmu keIslaman itu berhasil dikuasai Inyiak Parabek. Perjalanan mencari ilmu kemudian di teruskan ke daerah Batu Tebal di Padang Panjang. Surau Tuanku Angin saat itu dikenal sebagai tempat belajar ilmu Fikih. Selama satu tahun, Inyiak Parabek mempelajari kitab Matan Minhaj di sana. Berikutnya, Daerah Ladang Lawas, tidak jauh dari Parabek, dan Biaro (Ampek Angkek, Fort de Kock) menjadi tempat belajar yang membangkitkan jiwa Inyiak Parabek. Di kedua tempat itu bermukim 2 ulama besar Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas yang mendirikan madrasah-madrasah Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan Syekh Abdul Shamad yang dikenal juga dengan sebutan Tuangku Sami’.  Pada kedua ulama besar tersebut Inyiak Parabek berguru Tafsir Al-Qur’an. Dahaga keilmuannya terus dipenuhi dengan mendatangi lagi ulama lain di daerah Sungai Landir, berdekatan dengan Parabek, berguru pada Syekh Jalaluddin Al-Kasai di Sungai Landai, hingga bersungguh-sungguh dalam kesabaran untuk belajar bersama Syekh Abdul Hamid di daerah Suliki-Lima Puluh Kota, Payakumbuh.rumput

Masa kecil hingga remaja dihabiskan Inyiak Parabek untuk bersungguh-sungguh mencari ilmu. Figur ayahanda, ibunda serta keluarga besarnya yang memang memberikan perhatian tinggi pada ilmu Islam, sangat berbekas pada dirinya. Kesungguhan bertahun-tahun mendatangi banyak ulama di berbagai tempat di Sumatera Barat, mulai berbuah pada Ibrahim muda. Pemahaman Bahasa Arab untuk mengkaji kitab yang dimilikinya semakin meningkat. Bahkan di beberapa surau para ulama, Ibrahim muda ketika itu telah diposisikan sebagai “guru tua”, sebutan untuk santri senior yang diberi kepercayaan untuk membimbing murid-murid yang lebih yunior.

Didikan kuat keluarga pencinta ilmu dan asuhan para ulama karismatis semakin membakar semangat Inyiak Parabek kala itu untuk mengabdikan diri di jalan Allah Ta’ala. Hingga saat berusia sekitar 17 tahun, Inyiak Parabek telah memiliki dasar-dasar keilmuan Islam yang kuat berkat kesabaran dan kegigihannya. Ilmu yang dimiliki tak lantas membuatnya berpuas diri, justeru menjadi pemicu untuk mencari ilmu yang lebih luas lagi, bahkan bila perlu, hingga ke negeri yang jauh. Setelah berguru pada ulama-ulama dalam negeri, mulai muncul keinginan kuat pada diri Inyiak Parabek saat itu untuk mencari ilmu hingga ke tanah suci. Sebagai pusat ilmu Islam, tanah suci Mekkah dan Madinah, merupakan dambaan para pencari ilmu dan ulama di tanah air untuk dapat dikunjungi. Selain, untuk menunaikan ibadah haji, kesempatan mengunjungi tanah suci akan digunakan untuk menyerap ilmu seluas-luasnya dari para ulama yang sudah sangat dikenal kedalaman ilmu dan keshalihannya. Mimpi ke tanah suci, menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, terus bersemai di benak Inyiak Parabek kala itu. Dorongan tekad yang kuat berbalut kepasrahan mendalam. Sungguh sesuai dengan pepatah Minang : Tabujua lalu tabalintang patah (tekad yang sangat kuat akan mengalahkan apapun penghalangnya). Allah Ta’ala pun telah berfirman : Faa idza azzamta fa tawakkal ‘alallah… Jika Engkau telah berazzam (memiliki tekad yang kuat) maka bertawakkallah pada Allah Ta’ala.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *