Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (25)

By | 07/09/2019

dr Asril Moeis, SpOG

Cucu Syekh Ibrahim Musa

Dewan Pembina Yayasan Syekh Ibrahim Musa

Terus Membaik

Ketika Inyiak Parabek wafat tahun 1963, saya berusia 11 tahun. Ketika Inyiak pulang dari bergerilya saat PRRI meletus, saya sering main ke rumah beliau. Situasinya setengah revolusi. Orang banyak sekali yang keluar masuk rumah itu. Itulah model keterlibatan saya dengan dengan Inyiak Parabek dan Sumatera Thawalib ini,  keterlibatan tidak langsung. Saya tidak pernah ikut secara langsung.  Bapak saya memang di situ. Guru-guru Parabek banyak  yang datang ke rumah.membaik

Keluarga kami sangat demokratis dalam hal pendidikan. Kami dibebaskan untuk memilih. Ini juga menjadi spirit Inyiak Parabek. Beliau tidak pernah membuat putra mahkota, anak-anaknya juga tidak diarahkan untuk semuanya terjun di jalur agama. Anak-anaknya  hanya Tayyib Ibrahim yang masuk jalur agama. Thahir Ibrahim, yang paling tua, sekolah ekonomi di Belanda, sempat jadi atase perdagangan di beberapa Negara. Kemudian  Anis Ibrahim sekolah di ekonomi UI, pernah jadi aktivis mahasiswa. Ada juga anak beliau dengan Limbak, bernama Khadijah di Payakumbuh. Kita semua masuk ke sekolah umum. Saya sendiri bersekolah di SMAN di Bukittinggi, tapi sehari-hari berkawan dengan santri dan guru Parabek.  Sejak SMP saya ingin jadi sarjana Fisika Nuklir, tapi akhirnya memilih Kedokteran UI, walaupun saat itu diterima di Teknik Industri ITB, Fisika UGM, Kehutanan IPB dan Kedokteran Unpad. Saya akhirnya masuk ke bidang yang saya bisa, bukan yang saya ingin.

Tentang Sumatera Thawalib Parabek, saya kira sudah menjadi eranya zaman, jika perkembangannya sempat menurun. Perhatian masyarakat terhadap agama sebagai kehidupan sehari-hari juga menurun. Kualitas murid-murid yang masuk juga menurun. Tingkat minat orang-orang yang masuk berubah.  Dulu Parabek menjadi nomor satu di tahun 1960-an, 1970-an. Anak-anak terpintar masuk Parabek. Ketika masyarakat minatnya berubah, berubah juga raw materialnya yang masuk berubah. Otomatis kualitasnya akan menurun.

Kita sering menempatkan Parabek terlalu tinggi, mereka kan hanya setingkat SLTA. Kalau dulu yang menilai memang masyarakat yang masih rendah pendidikannya. Setelah tahun 1963, era yang dihadapi sudah berubah. Pendidikannya sudah semakin maju. Sebenarnya bukan Parabeknya yang mundur, tapi masyarakatnya yang sudah berbeda. Parabek itu setingkat  SLTP dan SLTA, sebaiknya sekolah ini menjadi bridging untuk siswa yang bercita-cita ingin jadi apa. Kalau kita menerima murid di kelas 1, Tsanawiyahnya Sumatera Thawalib, Aliyahnya di Kuliyatud Diyanah, berkisar 100 orang. Misalnya lulus sekitar 80 orang, yang masuk ke SMA kita misalnya 20 orang. Kalau kemudian 20 orang itu masuk ke SMA lain, ini kehilangan atau apa, Kalau saya tidak. Saya lebih senang mendengar bila lulusan Parabek, jadi apa saja, kemudian bisa berdakwah Islamiyah, sesuai kadarnya. Kalau ingin mendidik ulama besar itu terlalu jauh. Kalau guru-gurunya jadi agent of change, wajar, tapi kalau untuk siswanya hanya semacam  bridging saja.

Sekarang sekolah ini menunjukkan arah membaik. Hal ini tidak terlepas dari kesediaan teman-teman di yayasan dan guru-guru untuk bekerja melakukan perubahan, dengan berbagai onak durinya. Semua dijalani, dengan berbagai kesulitannya. Dengan mengubah pola manajemen yang ada, visi dan misinya berubah, tingkat kedisiplinannya berubah, perilaku SDM juga berubah. Hal ini berpengaruh pada terus membaiknya kondisi sekolah ini.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.