Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (3)

By | 16/12/2015

Kepeloporan dan Keberanian

            Orang-orang besar biasanya lahir dari tekad yang kuat. Bukan perkara mudah bagi anak negeri di tahun 1900-an untuk mencapai tanah suci. Untuk sekedar bermimpi pun, sebagian besar orang saat itu tak berani. Masa sulit di zaman penjajahan dan bayangan kesusahan yang akan ditemui tentu membuat kecut manusia yang tak memiliki nyali besar. Tidak seperti itu halnya dengan Inyiak Parabek. Tekad yang kuat untuk menunaikan ibadah haji, sekaligus menuntut ilmu langsung dari tempat Islam diturunkan dari para ulama di 2 kota suci, terus dipelihara dan diperjuangkan.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (3)

            Hingga akhirnya, kesempatan berharga itu datang juga. Pada bulan Rajab 1320 H bertepatan dengan 1901 M, Inyiak Parabek berangkat ke tanah suci. Keberangkatannya ditemani oleh Abdul Malik, saudara sepersukuan Inyiak Parabek dari suku Pisang. Abdul Malik merupakan  kakak sekaligus sahabat setia yang telah menemani perjalanan Inyiak Parabek menuntut ilmu, sejak dari masa ketika harus berpindah dari satu surau ke surau lain di berbagai tempat di Ranah Minang.

            dr Asril Moeis, SpOG, salah seorang cucu Inyiak Parabek, menilai fenomena pergi ke tanah suci untuk berhaji dan menuntut ilmu di zaman itu, bukan perkara biasa. Ada semangat kepeloporan dan keberanian, untuk menembus aneka kesulitan agar memperoleh tujuan yang lebih mulia.  “Kepeloporan dan keberanian beliau luar biasa, siapa sih yang berfikir pendidikan waktu itu,” kata Putera ke-3 Bapak Abdul Muis dan Ibu Sa’adah ini. Ibu Sa’adah adalah salah satu puteri dari Inyiak Parabek. Hanya mereka yang memiliki jiwa pelopor dan berani yang mau meninggalkan zona nyaman untuk kondisi yang lebih baik. Bukan saja untuk diri dan keluarga, tapi visi besar untuk membangun ummat, melalui pendidikan.  “ Waktu itu kehidupan di Parabek kan masih nyaman,” tambah dr Asril. Jika hanya ingin hidup nyaman, berpuas diri dengan yang telah ada, tak mungkin ada lompatan besar. Inyiak Parabek telah meninggalkan “zona nyaman” dengan status keluarga besar yang terpandang, potensi sebagai ulama di daerah yang mulai dikenal, melompat menuju tantangan yang lebih hebat : menuju tanah suci.

            Pesona tanah suci sebagai pusat ilmu Islam, diperkuat oleh nama besar para ulama Indonesia yang  bermukim di kota yang diberkahi itu. Salah seorang ulama di Mekah Al Mukarrahmah asal Minangkabau yang dikenal luas di tanah air adalah Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Syekh Ahmad  Khatib (1276H/1860M-1334 H/1916M) adalah ulama asal Koto Gadang Bukittinggi yang bermukim lama dan akhirnya meninggal di Mekah. Sejak kepergiannya ke Mekah pada 1876 M setelah lulus sekolah rendah dan sekolah guru di kota kelahirannya, Syekh Ahmad Khatib tak pernah kembali. Perjuangannya meninggalkan tanah air tercinta, menuntut ilmu dengan keras, hingga berhasil menjadi ulama yang dihormati di tanah suci, telah menginspirasi banyak pemuda Islam di Indonesia saat itu. Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi berhasil menjadi ulama besar di Masjidil Haram bidang hukum Islam dengan mazhab Syafi’i. Sosok dan pelajarannya menjadi favorit bagi para pelajar di tanah suci yang berasal dari tanah Melayu, seperti Indonesia, Malaysia, Pattani Thailand, dan Brunei. Beliau merupakan salah seorang tokoh pembaharu Islam yang berfikiran maju, anti bid’ah, khurafat dan takhayul, serta sangat anti penjajahan. Walaupun bermukim di Mekah, pengaruh Syekh Ahmad Khatib dikenal luas hingga di Indonesia, terlebih lagi di tanah kelahirannya, Minangkabau.

            Sosok Syekh Ahmad Khatib inilah yang menjadi salah satu inspirasi Inyiak Parabek untuk tidak berpuas diri dengan ilmu yang didapatkan di tanah air. Kepada Ulama Pembaharu itulah Inyiak Parabek berguru selama di Mekah. Berbagai kitab dan sumber keilmuan dari para ulama Islam sejak era awal dipelajari dengan tekun oleh Inyiak Parabek di bawah bimbingan beliau. Termasuk karya-karya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dikaji dan dipelajari secara seksama. Diantaranya adalah : Izhar Zughal al-Kazibin (masalah tarekat), Al Da’i al-masawi fi al-Radd ‘ala Yuwaritsu, Ikhwah wa al-Aulad al-Akhawat ma’a Wujud al-Ushul wa al-Furu’ (masalah waris), Daww al-Siraj (masalah Isra’ Mi’raj), al-Riyadh al Wardiyah (masalah ushul), al Manhaj Al-Masyru’, al-Nafahat (masalah fikih) dan karya-karya lainnya.

            Mirip dengan usahanya untuk berguru dan mendatangi banyak ulama ketika masih berada di kampung halaman, di Mekah Inyiak Parabek juga menimba ilmu dari banyak ulama Mekah lainnya, seperti : Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ali Ibn Hasan, Syekh Mukhtar al Jawi, dan Syekh Yusuf al-Khayyat. Banyaknya ulama yang menjadi sumber ilmu untuk didatangi telah memberikan perspektif yang kaya bagi dimensi keilmuan Inyiak Parabek. Kearifan hidup dan metode dakwah untuk terjun di masyarakat kelak juga menjadi ilmu bermanfaat yang diperoleh selama di tanah suci.

            Setelah sekitar 9 tahun menuntut ilmu yang mencerahkan di Mekah, tibalah saatnya bagi Inyiak Parabek untuk membuktikan lagi kepeloporan dan keberaniannya untuk berjuang dan memajukan bangsanya. Merantau memang merupakan tradisi masyarakat Minang. Merantau untuk kehidupan yang lebih mulia, untuk mencari ilmu atau yang lain, dilakukan warga Minang sejak dahulu kala. Hasil yang didapat dari perantauan itulah yang kemudian akan dibawa pulang ke kampung halaman.  Demikian juga halnya yang dilakukan oleh Inyiak Parabek. Rabi’ul Awal 1327 H adalah saat kepulangan Inyiak Parabek. Kepulangan yang telah dinanti, sekian banyak anak negerinya sendiri yang juga rindu kemajuan, ingin terbebas dari keterbelakangan.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:


0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *