Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (4)

By | 07/10/2018

Merintis Cita-Cita Besar

Menggagas visi, merancang aksi, biasanya dilakukan para agen perubahan yang punya niat mulia memajukan bangsanya. Mimpi tentang kondisi ideal di masa depan harus dirumuskan secara jelas, agar menjadi panduan yang tidak membingungkan bagi langkah-langkah berikutnya. Inyiak Parabek, menurut Syekh H.Abdul Gafar, murid langsungnya, adalah seorang ulama yang sangat visioner. “Keinginan besarnya adalah syariat agama Islam ini dijalankan dengan baik,” kata Syekh H.Abdul Gafar menjelaskan.  “Kalau syariat ini tegak, semua peraturan Allah ditegakkan, maka rakyat akan makmur dan sejahtera,” ujarnya lagi, berusaha menerjemahkan visi besar Inyiak Parabek. Menurutnya, Inyiak Parabek sangat ingin melihat masyarakatnya mau mempelajari, memahami, dan menerapkan ajaran agamanya.  Jalan hidup yang benar dan penuh keberkahan hanya bisa diperoleh dari Al-Islam. “Dan..pilihan beliau adalah berjuang melalui pendidikan,” ujar Syekh H.Abdul Gafar, berapi-api, dalam sebuah perbincangan hangat di pagi yang sejuk, di kampus Sumatera Thawalib Parabek.  Merintis Cita-Cita Besar

Sekembalinya dari Mekah, Inyiak Parabek tak ingin lama berdiam diri. Berhenti sejenak, sekedar melepas lelah dari perjalanan panjang juga tak sempat terfikirkan. Istirahat yang sesungguhya bagi seorang pejuang sejati hanya akan dinikmati dalam kehidupan sesudah mati, dalam surga yang abadi. Untuk mewujudkan cita-cita besar menegakkan Islam dalam masyarakat, Inyiak Parabek merintisnya dengan langkah-langkah kecil nan sederhana tapi penuh makna. Pengajian dengan sistem halaqoh, di masjid Parabek, langsung digelar dan diintensifkan.  “Adu lutut, istilahnya,” kata Ibu Hj Sa’adah Ibrahim, puteri Inyiak Parabek. Para peserta pengajian memang duduk bersila secara bersahaja di masjid, hingga lutut-lutut mereka sering “beradu”. Mendengar dengan khitmat curahan ilmu dari Sang Inyiak.

Secara istiqamah pengajian dalam bentuk halaqoh di masjid Parabek diasuh langsung oleh Inyiak Parabek. Pengajian inilah yang kelak di kemudian hari berkembang menjadi sebuah sekolah formal bernama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek. Sekolah yang telah melahirkan ribuan alumni dan sebagiannya merupakan tokoh-tokoh besar di zamannya. Sekolah yang pada tahun 2010 ini genap berusia 100 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari rintisan kecil bernama halaqoh.

 Di awal perintisan, masyarakat dari berbagai daerah mendatangi pengajian halaqoh itu, dan mulai merasakan dalamnya keilmuan Inyiak Parabek. Penguasaannya terhadap masalah-masalah keIslaman yang ditemui sehari-hari dalam masyarakat, dihiasai oleh metode penyampaian yang memukau dan menyejukkan, menyebabkan Inyiak Parabek cepat dikenal. Orang-orang yang haus ilmu mulai berdatangan mencari kesejukan dari Oase Kehidupan. Banyak anak-anak muda dari berbagai pelosok Minangkabau, bahkan dari luar daerah itu, datang ke Parabek untuk berguru kepadanya.

Selain langsung bekerja mewujudkan cita-cita besarnya melalui pengajian halaqoh, Inyiak parabek yang beranjak dewasa mulai berfikir untuk membangun rumah tangga. Peradaban Islam yang dicita-citakannya, bagaimanapun harus dari mulai dari unit yang paling kecil : diri dan keluarga. Setelah menempa diri cukup lama, saatnya untuk berjuang mewujudkan generasi penerus melalui keluarga sakinah.

Sebagai seorang yang mulai menjadi tokoh masyarakat, Inyiak Ibrahim banyak mendapat pinangan dari berbagai pihak yang ingin menjadikannya sebagai menantu. Menikahkan seorang anak gadis dengan seorang tokoh yang dianggap alim menjadi bagian dari tradisi dalam masyarakat Minangkabau. Selain bertujuan menaikkan status sosial, tujuannya adalah untuk mendapatkan keturunan berkualitas. Pinangan yang diterima, akhirnya, adalah keluarga H.Abdul Gani, seorang saudagar kaya dari kota Padang, untuk puterinya yang bernama Syarifah Gani. Pasangan Ibrahim Musa dan Syarifah Gani ini kemudian menikah, dan dikaruniai 3 orang keturunan, yaitu : Maryam Ibrahim, Thahir Ibrahim, dan Thayyib Ibrahim.

Di kemudian hari, Inyiak Parabek juga menikahi beberapa orang wanita. Syariat Islam memang membolehkan seorang pria memiliki isteri hingga 4 orang. Di masyarakat Minang, menikah dengan seorang yang dianggap alim merupakan suatu keutamaan. Bahkan jika seorang alim itu telah memiliki 4 orang isteri, dan pinangan terhadap dirinya masih berdatangan, maka biasanya salah seorang isteri biasanya siap untuk diceraikan, digantikan oleh wanita yang kemudian dinikahi suaminya. Berdasarkan catatan Jayusman Dt Mangkudun dalam bukunya tentang Inyiak Parabek, diperkuat dengan  keterangan yang diberikan secara lansung oleh Ibu Hj Sa’adah, salah seorang puteri Inyiak Parabek yang masih hidup, dalam kehidupannya Inyiak memiliki beberapa orang isteri. Tiga diantaranya menghasilkan keturunan, yaitu : Syarifah Gani, Rimbok yang berasal dari Karatau Parabek, dan Limbok  asal limbukan Payakumbuh. Menikahi Rimbok, Inyiak Parabek dikaruniai 5 orang anak yaitu Shafiah Ibrahim, Sa’adah Ibrahim, Anis Ibrahim, Halimah Sa’diyah, dan Muhammad Farid Ibrahim. (Dua anak yang terakhir meninggal saat masih kecil). Sedangkan pernikahannya dengan Limbok, Inyiak Parabek dikarunia seorang puteri bernama Khadijah Ibrahim.

Upaya merintis cita-cita besar Inyiak Parabek mendapat dukungan dari seluruh keluarga besarnya. Dalam keluarga pun, seperti dituturkan Ibu Hj Sa’adah, Inyiak dikenal sebagai seorang suami dan ayah yang hangat, tidak mudah marah, penyayang, dan memberikan keleluasaan pada anak-anaknya untuk memilih. Asalkan pertimbangan ajaran agama menjadi faktor pertimbangan utamanya. “Sehari-hari selalu ditekankan, agar jangan lupa agama,” ujar Ibu Sa’adah yang lahir tanggal 6 November 1927 itu.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.