Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (5)

By | 20/12/2015

Dari Halaqoh ke Madrasah

            Halaqoh (kelompok) keilmuan berhubungan erat dengan munculnya Islam. Halaqah-halaqah keilmuan terlahir sejak dakwah Islamiyah. Rasululloh biasa berkumpul bersama orang-orang yang beriman di Darul Al-Arqam (rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam), mengajarkan dienul Islam kepada para sahabat.Langit

            Rasululloh kerap duduk bersama para sahabatnya, mengajarkan Islam, para sahabat memperhatikan, menerima ilmu (pengajaran) dan mengamalkannya. Para sahabat berkumpul mengelilingi rasul. Para sahabat pun saling mengajari Kitabullah yang agung dan hadist-hadist yang mulia. Seperti yang dicontohkan oleh seorang sahabat  Abdullah bin Rowahah, ia berkata kepada para sahabat : “Kemarilah sejenak !” Mereka pun duduk bersamanya, lalu mengingatkan (mengajari) tentang pengetahuan terhadap Allah, tauhid dan akhirat. Ia menggantikan Rasululloh SAW pada saat beliau keluar kota, mereka berkumpul dengannya, mereka semua diam lalu iapun duduk menghadap mereka.

 Setelah Rasululloh wafat, halaqoh-halaqoh keilmuan banyak ditemukan : halaqah di Madinah oleh Abdullah bin Umar ra, di Mekkah oleh Abdullah bin Abbas ra, di Yaman oleh Mu’adz bin Jabal ra, di Bashrah Abu Musa Al Asy’ari ra, di Kufah oleh Abdullah bin Mas’ud ra, juga Mesir Abdullah bin Amr bin al Ash.  Sahabat lain pun merintis halaqah keilmuan yang seperti yang dibentuk oleh Abu Hurairah.  Generasi terbaik setelahnya (Tabi’in)  juga meneruskan tradisi untuk menghidupkan halaqoh yang penuh hikmah, seperti yang dilakukan oleh  Hisyam bin Urwah yang selalu dikelilingi banyak orang saat menyampaikan pengajarannya di masjid.

            Demikian Al –Ustadz Al Makki Aqlayanah memberikan deskripsi menarik tentang fenomena halaqoh dalam kitabnya yang telah diterjemahkan menjadi  Metode Pengajaran Hadist (Pada Tiga Abad Pertama Hijriyah).

Apa yang dilakukan oleh Inyiak Parabek dalam membina ummat di awal-awal perjuangan dengan menggelar pengajian halaqoh  secara istiqomah, tentu terinsipirasi dengan apa yang dilakukan oleh Rasululloh dan para sahabanya.

Halaqoh yang dirintis Inyiak Parabek sejak tahun 1910 terus berkembang dengan semakin banyaknya kaum muslimin dari berbagai daerah datang menimba ilmu dari forum keilmuan itu. Semakin banyak pula murid-murid setia yang terdidik dengan keIslaman yang benar sebagai hasil pendidikan di halaqoh ini.

Ketika Inyiak Parabek pergi ke tanah suci kedua kalinya untuk berhaji dan menambah ilmu, pengajian halaqoh ini  tetap berjalan, diteruskan oleh murid-murid beliau. Inyiak Parabek berangkat ke tanah suci kembali pada tahun 1914 (1333 H) bersama Syarifah Gani isterinya, dan Muhammad Thaher Ibrahim, puteranya. Di Mekkah mereka hanya bermukim kurang lebih 2 tahun, karena keamanan di Arab Saudi saat itu  sedikit terganggu karena konfrontasi politik.

Sekembalinya dari tanah suci, Inyiak Parabek melanjutkan lagi kegiatan dakwahnya dalam bentuk halaqoh yang semakin dinanti kehadirannya oleh ummat. Surau-surau di banyak tempat di Sumatera Barat juga marak dengan halaqaoh-halaqoh keilmuan, dibimbing oleh ulama-ulama masing-masing yang di daerah tersebut. Seperti halnya yang dilakukan Syekh Ibrahim Musa di surau Parabek. Ketika murid-murid halaqoh semakin banyak, dan berasal dari berbagai daerah, muncul keinginan untuk membentuk organisasi pelajar. Tahun 1916, terbentuk sebuah organisasi pelajar di Parabek yang disebut Muzakaratul Ikhwan dan kemudian berubah menjadi Jamiatul Ikhwan.  Organisasi ini bertujuan untuk mengupayakan kemajuan surau  Parabek. Ketua pertamanya H.Salim. Program Muzakaratul Ikhwan ini salah satunya menerbitkan majalah Al Bayan, terbit perdana 25 September 1919 dipimpin oleh Djamain Abdul Murad.

Pengaruh organisasi Muzakaratul Ikhwan ternyata meluas pada beberapa daerah yang juga memiliki surau-surau dengan halaqoh keilmuannya.  Inyiak Parabek sebagai pembina surau Parabek juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ulama-ulama yang membina kegiatan halaqoh di surau-surau lain. Salah satunya adalah  dengan Syekh Abdul Karim Amrullah selaku ulama Surau Jembatan Besi Padang Panjang. Pada tahun awal Desember 1919, muncul keinginan beliau berdua dan para murid-muridnya  untuk memperluas organisasi pelajar Muzakaratul Ikhwan. Maka disepakati lah nama “Sumatera Thawalib” yang bermakna pelajar-pelajar Sumatera. Organisasi pelajar ini diharapkan dapat mempersatukan murid-murid seluruh Sumatera, karena memang saat itu mereka berasal dari berbagai daerah di Sumatera, tidak hanya Sumatera Barat. Pelajar yang tergabung dalam yang tergabung dalam Sumatera Thawalib ini ternyata sangat aktif, saling bahu membahu dengan para ulama untuk memajukan pendidikan Islam. Di Parabek misalnya, para pelajar itu  mulai meungapayakan berdirinya perpustakaan / kutub khanah, usaha produktif, surau/asrama pelajar  dan mulai berfikir untuk mendirikan gedung sekolah dan merintis sistem pendidikan yang lebih maju lagi.

 Nama “Sumatera Thawalib” akhirnya resmi digunakan sebagai nama madrasah dalam bentuk halaqoh yang telah dirintis Syekh Ibrahim Musa sejak tahun 1910. Penamaan ini tercatat dilakukan pada 21 September 1921. “Sumatera Thawalib” juga digunakan sebelumnya oleh Syekh Abdul Karim Amrullah (Inyiak De-er) di Jembatan Besi Padang Panjang untuk menamakan madrasah yang dikelolanya. Demikian juga dengan beberapa madrasah serupa yang telah ada di beberapa daerah, seperti Padang Panjang, Sungai Puar, Padang Japang, Sungayang, Payakumbuh, Maninjau, Bukittinggi, Pariaman, Kubang Putih, Tanjung Limau, dan Padusunan Pariaman.   Nama “Sumatera Thawalib” digunakan bersama-sama, sehingga dikenallah “Sumatera Thawalib Padang Panjang”, “Sumatera Thawalib Parabek” dan seterusnya.

Sumatera Thawalib Parabek menjadi salah satu madrasah yang cepat berkembang, bahkan bisa bertahan hingga kini. Pengaruh Syekh Ibrahim Musa yang dikenal sebagai ahli bidang Ilmu Fiqh dan Ushul Fiqih, menjadi salah satu faktor penentu. Para murid madrasah ini tidak hanya datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat, tapi juga dari daerah lain di Pulau Sumatera, kepulauan Nusantara, dan negeri jiran Malaysia. Ulama besar banyak yang menitipkan anaknya ke Sumatera Thawalib, diantaranya adalah Syekh Abdul Karim Amrullah yang menyekolahkan anaknya HAMKA. Kapasitas dan integritas Inyiak Parabek ikut memberi pengaruh pada lulusan berkualitas yang dihasilkannya pada saat itu.

Sejak bernama Sumatera Thawalib pada tahun 1921, sistem pembelajaran di madrasah ini dikembangkan, dari sistem halaqoh menjadi sistem klasikal. Jika pada sistem belajar halaqoh murid-murid disamakan saja materi pembelajarannya dan tanpa ada batasan waktu untuk belajar, maka pada sistem klasikal, mulai ada pemilahan para siswa sesuai tingkat pengetahuan dan pelajarannya. Jika sebelumnya siswa hanya mengikuti pelajaran secara umum di masjid, duduk bersila tanpa dibagi pada kelas-kelas, maka di era ini para murid mulai dibagi dalam kelas-kelas, seperti yang kita kenal pada sistem pendidikan di sekolah-sekolah pada saat ini. Batas waktu pendidikan pun mulai diatur. Saat ini pendidikan di Sumatera Thawalib ditempuh dalam jangka waktu 8 tahun.

Demikianlah, dari berbentuk halaqoh, perjuangan Inyiak Parabek semakin melihatkan hasil yang nyata dengan berdirinya Sumatera Thawalib Parabek. Berbagai kemajuan terus terlihat, gedung-gedung kelas juga mulai dibangun dan tertata.  Pada sekitar tahun 1931 Masjid Jami’ Parabek sebagai pusat kegiatan juga mulai dibangun di atas tanah wakaf dari Inyiak Parabek. Masjid megah dengan arstitektur yang indah, berkubah tapi tidak bermenara, menjadi saksi perjuangan ummat di bawah bimbingan Inyiak Parabek.

Pola pendidikan di Sumatera Thawalib Parabek selama 8 tahun kemudian dikembangkan lagi dengan dibukanya sebuah program baru yang disebut Kuliyatu Diyanah. Program ini didirikan pada tanggal 10 Oktober 1940 oleh H.Bustani Abdul Gani (menantu Inyiak Parabek, alumnus Universitas Al-Azhar Mesir). Lama pendidikan di program ini adalah 3 tahun, hingga jadi seluruhnya menjadi 11 tahun. Pola pendidikan seperti ini menghasilkan lulusan yang mumpuni dan di kemudian hari dikenal sebagai ulama-ulama tangguh yang disegani ummat dan menjadi pusat rujukan. Sebuah kisah tentang madrasah berwibawa yang dimulai dari halaqoh yang bersahaja.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *