Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (6)

By | 09/10/2018

Ikhlas Berbuat

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya (Al-Kahfi: 110)

Keikhlasan adalah mata air pelajaran berharga yang terus menerus dikucurkan Inyiak Parabek kepada para murid-muridnya. Bahwa pekerjaan apa saja, sekecilpun, harus dilandasi oleh keikhlasan yang tidak boleh ternoda. Hanya mengharap ridha Allah Ta’ala, bukan yang lain.take_action

Syekh Khatib Muzakkir, pimpinan Sumatera Thawalib Parabek saat ini, yang juga merupakan murid Inyiak Parabek, menuturkan sebuah kalimat gurunya yang sangat berkesan : “Ini tugas Kita !” Kalimat pendek bermakna dalam ini disampaikan pada seorang guru yang terlihat terus konsisten mengajarkan Al-Qur’an di Parabek, walapun penuh dengan segala keterbatasan.

Syekh Khatib Muzakkir masuk ke Sumatera Thawalib Parabek pada tahun 1955 karena tertarik dengan kehidupan yang serba teratur dan menyejukkan di pesantren. Setelah lulus, langsung diangkat menjadi khatib negeri. Sebuah pengabdian yang tidak menjanjikan materi. “Tidak banyak uangnya,” kata Syekh Muzakkir, hingga suatu saat seorang guru lain datang dengan membawa uang sedemian banyak. “Mau tidak uang ini, bisa untuk beli 2 mobil ?” Tanya guru itu. Tentu saja Syekh Muzakkir tergiur. “Kalau mau, ayo ikut, kita berdagang saja,” kata guru yang juga bernama Ibrahim, sehingga sering dipanggil Inyiak Ibrahim. Hampir saja dirinya tergoda, hingga diingatkan dengan bijak oleh sang Guru “”Lupa ini khatib, tugas kita bukan itu !” Syekh Muzakkir tersadar dan menangis menyesal, seraya bersyukur telah diingatkan kembali tentang pelajaran ilmu ikhlas.

Ibu Hj. Sa’adah, puteri Inyiak Parabek, menuturkan ayahnya sangat total dalam bekerja untuk madrasah, benar-benar mengabdi untuk Allah Ta’ala, tanpa memiliki tujuan-tujuan lain. Keikhlasan Inyiak Parabek terpancar menjadi kewibawaan. “Izzah !” kata Syekh Muzakkir. “Saya tidak pernah menemui seseorang menyanggah, membicarakan atau menyalahkan Inyiak Parabek, walaupun tidak di depannya. Orang-orang segan, bahkan orang yang tidak faham agama sekalipun, misalnya preman di kampung, kalau sama Inyiak segan,” tutur Syekh yang bernama kecil Syahrir ini. Semua itu buah dari keikhlasan yang ingin dijaga oleh Inyiak Parabek.  “Orang berilmu yang ikhlas, tidak akan disia-siakan oleh Allah,” ujar Syekh Muzakkir mengulang pesan-pesan Inyiak Parabek padanya. Semangat keikhlasan itu mewarnai suasana Sumatera Thawalib Parabek ketika itu. “Guru-guru bekerja tidak pandang waktu, semangat belajar dan mengajar sangat tinggi, padahal listrik saja belum ada,” kisahnya lagi.

Syekh Abdul Gafar, murid Inyiak Parabek yang lain, menggambarkan kondisi susah tapi semangat tetap berkobar : “Saya yang telah jadi guru saat itu  gajinya Rp50, hanya dapat 10 cangkir teh pahi, untuk sebulan. Itu suka dukanya, tapi tetap semangat,” kisahnya.

Salah satu pelajaran tentang keikhlasan yang ditunjukan Inyiak Parabek adalah sejak masih hidup beliau tidak pernah berfikir bahwa Sumatera Thawalib Parabek adalah milik pribadi dan hanya akan diwariskan pada keluarga atau anak cucunya kelak. Ini benar-benar milik ummat.  Seperti dikisahkan Syekh Abdul Gafar, murid Inyiak Parabek lainnya, sejak masih hidup, Syekh Ibrahim Musa sudah berfikir untuk membentuk yayasan yang menaungi madrasah itu. Tahun 1958 diadakan Pertemuan Pelajar Sumatera Thawalib Parabek untuk membicarakan pembentukan yayasan. Disepakati Amir Hamzah Datuk Tunggal dan  Dalailu Chairat sebagai sekretarisnya, lengkap dengan pengurus, penasehat dan anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Namun  belum sempat dicatatkan pada notaries, timbul pergolakan PRRI, sehingga kelanjutan pembentukan yayasan juga terhenti. Hingga setelah Iyiak Parabek wafat tahun 1963, diadakan lagi pembentukan yayasan yang diberi nama Yayasan Syekh Ibrahim Musa. Ketua pertamanya adalah HM Datuak Palindih, dan dicatatkan pada notaris Hasan Qalbi di Padang, 7 September 1963.

Ir H.Novizar Zen, ketua Yayasan Ibrahim Musa saat ini, menilai itu adalah bentuk cara berfikir Inyiak Parabek yang sangat maju untuk ukuran zamannya. Di eranya saat ini, Novizar Zen, menunjukkan komitmen untuk mengelola yayasan secara profesional, termasuk memberlakukan status guru tetap bagi seluruh guru Sumatera Thawalib dan memberikan penghargaan yang layak. Walaupun kondisi dan zaman telah berubah, tetap saja pelajaran tentang keikhlasan Inyiak Parabek tetap layak menjadi inspirasi.

Ir Susi Zaharawati Moeis MT, Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Ibrahim Musaa, mengingatkan kembali tentang spirit keikhlasan itu. “Keikhlasan akan membawa pada keberkahan hidup,” katanya. Untuk itu pihaknya terus menerus memompakan spirit keikhlasan Inyiak Parabek pada guru-guru dan karyawan di sekolah, termasuk pada seluruh pengurus yayasan. “Kita tidak ingin kehilangan makna hidup mereka. Seberapa yakin bahwa Allah akan membantu kita,” tambahnya dalam wawancara di kediamannya di Jakarta. “Kami tidak ingin membiarkan kondisi dunia materialis yang sedang berkembang di luar sana ikut menguasai Parabek,” jelasnya. Susi Zaharawati yang memang bertugas melakukan pembinaan dna pengembangan kualits pendidikan mencontohkan persoalan kesejahteraan yang sering dipertentangkan dengan keikhlasan. “Saya meyakini kenaikan gaji itu hanya akan memuaskan hati seseorang tidak lebih dari 3 bulan, setelah itu dia akan kembali. Saya lebih meyakini yang perlu diubah adalah rasa ikhlasnya, semangat jihadnya,” katanya dengan tenang. “Bukan berarti gaji tidak penting. Itu kewajiban kami di yayasan untuk memikirkan peningkatan kesejahteraan, tapi mari kita kembali lagi pada spirit Inyiak Parabek,” ujarnya memungkasi perbincangan.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.