Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (7)

By | 10/10/2018

Perhiasan Takwa

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) (Al-Hasyr : 18).

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar (Al-Ahzab: 70)

            Ada kisah kecil yang disampaikan Syekh Abdul Gafar tentang Inyiak Parabek. Suatu saat seorang khatib berkhutbah dengan tanpa memberikan wasiat takwa. Inyiak Parabek pun menegur dan memperingatkan sang khatib. Sang Khatib berargumen bahwa seluruh materi yang diuraikan juga wasiat takwa.  Inyiak Parabek pun menjelaskan dengan sabar bahwa wasiat takwa  pengertiannya sangat luas, jadi diperjelas dengan kalimat “Ushikum Bitakwallah”.Perhiasan

            Takwa memang menjadi pelajaran tentang bekal terindah yang harus ada pada setiap guru dan murid-murid Sumatera Thawalib, beserta seluruh masyarakatnya. Melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dan sekuat mungkin menjauhi larangannya adalah definisi takwa paling sederhana. Pelajaran tentang takwa, lagi-lagi, tidak sekedar diucapkan oleh Inyiak Parabek, tapi juga dididik dengan keteladanan.

            Inyiak Parabek selalu menunjukkan kehati-hatian yang tinggi dalam hidupnya. Dan inilah sebenarnya hakekat takwa.  Ubay bin Ka’ab dan Umar bin Khattab pernah berdialog serius tentang takwa. Umar bertanya pada Ubay perihal takwa, lalu dijawab : “Pernahkah engkau, Wahai Umar, melewati jalan berduri?” “Pernah”, jawab Umar. “Apa yang kamu lakukan ketika melewatinya”, tanya Ubay. “Aku berhati-hati dan bersikap bersungguh-sungguh”, jawab Umar. “Demikian juga halnya takwa”, jelas Ubay.

            Seluruh aspek hidup Inyiak Parabek diusahakan untuk mengimplementasikan prinsip takwa dan kehati-hatian itu. Syekh Abdul Gafar menggambarkan kehati-hatian Inyiak Parabek dalam beragama. Jika beliau ditanya, maka pertanyaannya akan  dikonfirmasi hingga benar-benar jelas, maksud dan tujuanya, kemudian akan dicari referensi. Jika tidak begitu jelas jawabannya akan dicari waktu lain, untuk menelaahnya terlebih dahulu.

            Dalam perilaku keseharian, prinsip takwa juga terlihat. Bagaimana misalnya Inyiak selalu mensyukuri makanan, ataupun adabnya dalam berjalan, berpakaian, hingga cara bicara. Semuanya diusahakan sebagai bagian dari ketakwaan. Syekh Abdul Gafar menjelaskan bahwa Inyiak Parabek suka berjalan cepat, suka menegur sapa orang yang sedang duduk. “Beliau akan berhenti dulu, dan menyapa,” katanya.  Bila berpakaian Inyiak Parabek sangat bersih dan rapi, menyenangkan orang yang melihat. Jika memakai sarung di atas mata kaki. Beliau juga memelihara jenggot. “Inyiak itu kemah lembut, tidak suka marah, tidak suka tertawa terbahak-bahak.” Dicontohkan Syekh Abdul Gafar bagaimana Inyiak Parabek berdakwah dalam mengikis khurafat. “Jangan terburu nafsu mencegah orang, merubah sesuatu. Ibarat menggosok periuk dari tembikar tanah, kalau digosok keras-keras pecah, harus pelan-pelan. Periuk tidak pecah dan maksudnya kita tercapai,” begitu pesan Inyiak Parabek seperti ditirukan Syekh Abdul Gafar. Ketika suatu saat di sebuah kenduri, ada yang membakar kemenyan dan ditanya bagaimana hukumnya. Inyiak Parabek menjawab : “Tidak dilarang membakar kemenyan kalau untuk berharum-harum,” Orang-orang pun tertawa, dan bisa berkesimpulan bahwa kemenyan untuk sesuatu yang syirik jelas dilarang.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.