Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (8)

Tafaqquh Fiddin : Semangat Berilmu untuk Ilmu

Katakanlah (Ya Muhammad) : “Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan mereka yang tidak berilmu (Az-Zumar : 9)

Allah akan mengangkat orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang dikaruniai ilmu beberapa derajat (Al-Mujadilah:11)

            Memahami agama secara mendalam (tafaqquh fiddin) adalah spirit Inyiak Parabek. Para guru dan murid-murid didorong untuk menguasai suatu ilmu secara detail. Lulusan Sumatera Thawalib ditegaskan harus memiliki kompetensi keilmuan yang memadai.

Seorang khatib, sebelum menyampaikan khutbahnya harus benar-benar mempersiapkan diri dengan ilmunya. “Kalau ada yang salah akan dipanggil khatibnya. Kalau diperkirakan merusak, akan disuruh turun,” kenang Syekh Khatib Muzakir tentang gurunya. Inyiak Parabek akan selalu menanyakan ayat Al-Qur’an yang dibaca itu tafsirnya apa, tidak cukup dengan terjemahan tapi harus berdasar pada mufassirin, ahli tafsir terdahulu. Contoh tentang khutbah ini menyiratkan tuntutan kompetensi keilmuan yang tidak sembarang. Untuk menekankan pentingnya ilmu, ijazah lulusan Sumatera Thawalib Parabek dulu selalu diberikan tulisan peringatan untuk tidak sembarang memberikan fatwa keagamaan tanpa ilmu yang benar. “Ancamannya Neraka,” kata Syekh Muzakkir.3795997958_11ff92f910

            Inyiak Parabek juga sangat teliti dengan apa yang disampaikan. Diteliti satu persatu, karena kehati-hatiannya.”Suaranya tidak pernah keras, lembut, tapi masuk ke hati pendengarnya” katanya lagi. Menurut Inyiak Parabek tafaqquh fid din dipahami sebagai sikap bersungguh-sungguh dan berdalam-dalam ilmu agama dan dalam penghayatan agama. Sikap ini harus ada pada setiap guru dan murid Sumatera Thawalib. Semua itu untuk  mempersiapkan anak didik menjadi ulama dan ahli agama di masa depan.

            Kecintaan terhadap ilmu, dicontohkan langsung oleh Inyiak Parabek. Menurut Syekh Khatib Muzakkir yang telah jadi guru sejak tahun 1963, Inyiak Parabek sangat giat belajar. Walaupun kapasitas keilmuannya sudah tidak diragukan lagi. Tapi keinginan untuk terus belajar tidak pernah padam.  “Inyiak parabek, kalau sudah mengantuk membaca buku,  akan terus dipaksa dengan tidur berbantal dengan yang keras, agar hilang kantuknya, atau berdiri dan jalan-jalan, kemudian melanjutkan membaca,” kisahnya.   “Inyiak sangat suka membaca buku. Kalau tidak sesuai dengan apa yang dipahaminya tidak akan disalahkan, tapi diberi catatan : la alla showab, semoga ini betul. Dikritisi, tapi tidak disalahkan,” tambahnya.

             Penghargaan terhadap ilmu ditunjukkan oleh Inyiak saat harus memilih seorang kepala sekolah untuk Sumatera Thawalib Parabek. Ada 2 kandidat yang diunggulkan. Calon yang satu sangat pintar, cerdas dan mudah memahami sesuatu, sedangkan calon yang lain tidak begitu cerdas tapi sangat keras usahanya untuk membaca dan mengkaji ilmu. “Inyiak memilih yang tidak begitu cepat memahami pelajaran tetapi berusaha keras mengkajinya, karena sangat suka membuka,” kata Syekh Muzakkir.

            Kecintaan Inyiak Parabek terhadap ilmu juga ditunjukkan dengan minatnya yang besar untuk mengembangkan perpustakaan madrasah. Sejak awal Inyiak Parabek sangat menyadari arti penting perpustakaan. Pada tahun 1920/1339 H, dirintis perpustakaan pesantren dengan penggalangan dana dan pada tahun 1924 didirikan sebuah bangunan untuk perpustakaan yang disebut khutub khanah. Inyiak Parabek dikenal sangat gemar mengoleksi buku, buku-bukunya diperoleh dari berbagai Negara, diantaranya dari Mesir, Malaysia, India Saudi Arabia dan Indonesia sendiri.

            Buah dari kecintaan Inyiak Parabek dapat dilihat dari hasil karya beliau. Selama hidupnya, dihasilkan beberapa kitab, diantaranya adalah : Ijabah al Sul (jawaban atas persoalan-persoalan Ushul fiqh), yang merupakan sarah atau penjelasan dari Kitab Husul al Ma’mul, karya Muhammad Shiddiq Hasan Khan Bahadir tentang ilmu ushul fiqh. Kitab yang ditulis Inyiak Parabek membantu siswa untuk memahami kitab Husul al Ma’mul. Ada lagi kitab Hidayah al Shibyan, petunjuk bagi anak-anak. Kitab ini juga  berbahasa Arab dan merupakan kitab ilmu balaghah (sastra bahasa Arab). Selain itu terdapat karya yang ditulis dalam bahasa Minang, yaitu Kitab Hidayah (berisi tentang ilmu Tauhid). Selain itu Inyiak Parabek juga aktif menulis di majalah Al Bayan tentang berbagai persoalan hukum Islam. Inyiak Parabek juga meneliti (mentashih)  buku karangan ulama lain seperti Abdul Malik Al Shiddik, yang berasal dari Birogo Bukittinggi, dengan judul al-Tarhib fi al Tarbiyah wa al Tarsib. Kitab yang berisi  tentang pedoman praktis kehidupan sehari-hari dan masalah akhlak.

            Karya Inyiak Parabek dan penghargaannya terhadap Ilmu menyiratkan kedalaman motivasi. M Athiyah al-Abrasyi, dalam Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam menyebutkan salah satu hal penting dalam pendidikan Islam,  adalah motivasi mempelajari ilmu semata-mata untuk ilmu itu saja. Inyiak Parabek sudah mengajarkan dan mencontohkannya.

Barangsiapa berjalan dalam upaya mencari ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga (H.R Muslim)

Barang siapa keluar mencari ilmu, maka ia berada di Jalan Allah hingga dia kembali (H.R Tirmizi)

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Perlu bantuan? WA kami sekarang