Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (9)

By | 24/12/2015

Guru yang Santun dan Lapang Dada

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasululloh Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Ajarilah, permudahlah, jangan engkau persulit, berilah kabar gembira, jangan engkau beri ancaman. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya diam.” (Dikutip dari kitab Shahih al-jami’ ash-shagir nomor 4027, oleh Dr Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, dalam Prophetic Parenting, Cara Nabi Mendidik Anak)

Salah satu kebiasaan Inyiak Parabek adalah, di pagi buta sudah keluar rumah, berjalan melewati sawah, asrama-asrama santri dan rumah penduduk. “Ujung tongkatnya yang terdengar saja, sudah menjadi pertanda bagi murid-muridnya,” ujar Buya Mas’oed Abidin ZA Jabbar, seorang ulama Sumatera Barat yang pernah merasakan pengalaman bersama Inyiak Parabek selama masih hidup.Biografi Ulama, Syekh Ibrahim Musa : Inspirator Kebangkitan (9)

Buya Mas’oed menggambarkan bagaimana kedekatan Inyiak Parabek dengan murid-muridnya. Hubungan santri dan guru sangat dekat. “Beliau adalah tokoh yang arif bijaksana,  diakui kebesarannya, tidak seperti orang sekarang yang dibesar-besarkan, membesarkan-besarkan diri,” jelas Buya Mas’oed.  Inyiak Parabek digambarkan sebagai guru yang manis mulutnya.  Suara tidak keras, halus tapi menggambarkan kematangan, lidahnya tajam. Kalau marah cukup dengan mata.  “Beliau adalah Alim yang wara’, makin berisi menunduk. Seluruh kalimatnya adalah pelajaran, dan kalau tidak ada rujukan tidak mau bicara,” jelas Buya Mas’oed. Inyiak Parabek digambarkan sebagai guru yang berjalan ucapannya dan pemikirannya dengan nilai-nilai : taat, teguh, istiqomah, alim, wara, dan akrab.

Prof Dr Fadhl Ilahi, dalam bukunya “Muhammad SAW : Sang Guru yang Hebat” memberikan gambaran menarik tentang sosok Rasululloh sebagai seorang guru, berdasarkna Al-Qur’an dan hadist-hadist Shahih. Salah satunya adalah mendidik dengan keteladanan. Tidak ada satu keutamaan yang dianjurkan kecuali beliau lakukan, bahkan mendahului yang lain dalam mengamalkannya. Sebaliknya, tidak ada kejelekan yang beliau larang, kecuali beliau orang yang paling jauh darinya.

Buya Deswandi, Wakil Pimpinan Sumatera Thawalib Parabek saat ini menjelaskan bagaimana keteladan selalu dikedepankan dalam mendidik murid-muridnya. Ketika mengajarkan tentang menahan amarah, maka semua sudah tahu bahwa Inyiak Parabek adalah guru yang tidak gampang marah dan dekat dengan murid-muridnya. Setiap malam misalnya, Inyiak Parabek akan mendatangi asrama pelajar dan mengecek kondisi mereka. Ada yang diselimuti, bila terlihat kedinginan, atau ada yang dipegang kakiknya ketika tidur. “Kalau dingin berarti murid itu keluyuran malam-malam, padahal dilarang,” kata Buya Deswandi. Menghadapi anak yang bersalah pun Inyiak Parabek selalu mendiskusikan sebelumnya hukuman apa yang pantas dan mendidik. Misalnya diminta untuk membersihkan masjid atau mengangkut batu untuk membangun masjid. Anak yang dihukum akan menjalaninya dengan senang hati karena merasa bersalah, dan  tahu hukumannya pernah dinegosiasikan sebelumnya. Bisa dikatakan Inyiak Parabek adalah seorang murabbi yang berempati terhadap murid-muridnya. “Belum tentu orang tua di rumah seperti itu, “ katanya. Hal ini sejalan dengan tulisan Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam Pendidikan Anak Menurut Islam : Kaidah-Kaidah Dasar, yang menekankan metode pendidikan yang berpengaruh terhadap anak yaitu : (1) mendidik dengan keteladanan, (2) mendidik dengan pembiasaan, (3) Mendidik dengan Nasihat, (4) Mendidik dengan Pengawasan, (5) Mendidik dengan hukuman. Semuanya dilakukan dalam kerangka kesantunan dan lapang dada para pendidiknya.

Selain itu, menurut Buya Deswandi Inyiak Parabek telah melaksanakan fungsi supervisi dalam pembelajaran, sekaligus berperan sebagai guru pamong.  “Beliau adalah supervisor yang ulung, biasanya masuk ke kelas dan include dengan pelajaran yang ada. Misalkan ada pelajaran tafsir di kelas, tanpa memberitahu beliau akan datang, duduk di kelas mendengar, ketika ada guru yang kewalahan memberi pengertian pada anak-anak, dibantu untuk menjelaskan,” jelasnya.  Selain itu siswa-siswa juga dilatih untuk menjadi guru melalui program asistensi. Siswa kelas 6 misalnya diminta mengajar kelas 5. Inyiak Parabek juga berperan sebagai Guru Pamong yang membantu guru-guru lain dalam mengkaji pelajaran-pelajaran.

Keteladanan Inyiak Parabek sebagai guru dirasakan betul oleh orang-orang yang pernah menjadi muridnya atau oleh masyarakat luas yang pernah memperoleh pelajaran darinya. Dikisahkan oleh Syekh Abdul Gafar tentang cara mengajar Inyiak Parabek terhadap masyarakat umum.   Pada suatu hari Kamis di tahun 1955, di Masjid Raya Kubang Putih Banuhampu. Saat sedang musim kampanye Pemilu, tersiar kabar bahwa orang Partai Komunis dicap sebagai kafir oleh lawan politiknya. Maka terjadilah tanya jawab antara seorang anggota partai komunis dengan Inyiak Parabek dalam pengajian itu :

“ Kami urang partai komunis io kafir?”

“Sutan lai mengucapkan dua kalimat syahadat?”

“Lai

“Sutan lai mengerjakan shalat lima kali sehari semalam?”

“Lai”

“Sutan lai puaso di bulan ramadhan?”

“Lai”

“Kalau harta pencaharian cukup senisab lai amuah mangaluakan zakatny?”

“Lai amuah”

“Kalau ada kesanggupan keuangan dan badanpun sehat, serta kuangan keluarga ada 

pulo, lai amuah menunaikan ibadah haji ke makkah?”

 “Lai”.

            Dialog ini menggambarkan pertanyaan tentang status kafir atau tidaknya seorang balik ditanya dengan pertanyaan apakah seseorang itu melaksanakan rukun Islam, dan dijawab YA oleh orang itu. Maka Inyiak pun hanya menjawab : Pekerjaan nan baik, teruskanlah itu. Artinya melaksanakan segala perintah Islam itu yang diteruskan.

Inyiak Parabek memang tidak gampang atau berkata-kata keras tapi tetap tegas. Dalam buku biografi Inyiak Parabek karya Jayusman dikisahkan saat mengungsi ke Maninjau di zaman PRRI ada khatib yang menjelek-jelekkan Soekarno, Inyiak Parabek pun menegurnya “ Ya Khatib luruskan khutbah !” Menghadapi peristiwa mogok belajar dengan seorang guru. Inyiak Parabek tegas, dengan mengunci mereka di dalam kelas. Mereka mengaku salah dan minta maaf. “Kalau tidak suka boleh mencari sekolah lain, kalau masih mau masuk di Parabek, belajarnya di surau Mandiangin!”. Surau itu diistilahkan sebagai  surau Digul, karena berfungsi sebagai tempat “pembuangan” atau hukuman bagi santri bermasalah.

Ibu Hj Annidar, warga Parabek yang pernah belajar hingga kelas 6 juga memiliki kesan yang mendalam tentang Inyiak Parabek sebagai guru. “Beliau ulama yang paling dihormati, sekaligus dekat dengan muridnya. Disiplin tapi tidak kaku,” Kata Ibu Annidar yang tidak sempat menyelesaikan pendidikannya karena ada gejolak PRRI.

Kedekatan Inyiak Parabek dengan para muridnya juga digambarkan Inyiak H.Munir Zakaria yang pernah menjadi murid di Sumatera Thawalib pada tahun 1954. Kisahnya, saat ini beliau bermaksud untuk menikah, dan ingin minta restu dari Inyiak Parabek. “Saya memang selalu menjadikan Inyiak Parabek untuk meminta restu pada semua urusan, setelah ayah dan ibu.” Katanya. Ketika itu Inyiak Parabek sedang di halaman masjid, dan mengajak masuk ke dalam masjid. Duduk bersandar di tonggak, hingga lutut beliau berdua saling bertemu. “Alhamdulillah saya akan memikul tanggung jawab. Saya sudah izin pada ayah dan ibu, sekarang pada Inyiak, saya mohon izin untuk menikah, nasehati saya,” kata Inyiak Munir Zakaria ketika itu. Inyiak Parabek pun hanya memberi petuah singkat yang terus dikenangnya : “

Isterimu amanat Allah, peliharalah amanat itu.”  “Inyiak adalah guru dan bapak, bahkan lebih dari itu,” tambah Inyiak Munir menyimpulkan tentang sosok gurunya itu.

Sikap terpuji Inyiak Parabek untuk senantiasa dekat, santun dan berlapang dada sangat berkesan pada murid-muridnya. Buya H.Muhammad Dalil, murid Inyiak Parabek tahun 1933, menyebutkan sifat yang paling diingat adalah lapang dada. “Sifat beliau sangat lapang dada, tidak mudah marah, semuanya dijawab dengan senang hati. Luas sekali ilmu pengetahuannya,” tutur Buya Dalil tak kuasa menahan haru mengenang gurunya. Sikapnya yang santun dan lapang dada itu lah yang membuat para muridnya bersemangat untuk menuntut ilmu, ingin meniru Inyiak Parabek yang sangat cinta dengan pendidikan. “Tugas kalian menuntut ilmu. Tuntutlah ilmu sampai benar-benar mengerti apa yang dipelajari. Rajin lah belajar, fahami suatu ilmu hingga sempurna,” nasehat Inyiak Parabek yang selalu dikenang Buya Dalil.

Kesantunan sebagai guru juga semakin menarik bagi siswanya ketika dibalut oleh sifatnya Inyiak Parabek yang humoris. Inyiak Parabek memang menyukai humor yang santun dan menyegarkan . Seperti dikisahkan Syekh Abdul Gafar, suatu hari di waktu istirahat mengajar, beliau bertanya : “Apa faedah merokok?” Dijawab : “untuk pamuloi mangecek” (membuka percakapan), “Baa caronyo?” (bagaimana caranya). “Kami kaluakan rokok, isoklah rokok”, kata kami. Beliau tidak menjawab, tapi menganguk-angguk  seperti kebiasaannya. Kemudian Inyiak berkata lagi :  “kami urang nan Indak paisok, orang paisok pamuloi kecek”. “Baa caronyo inyik?” kata orang-orang. “Sambil merogoh kantong kami katakana kami indak merokok?” kata Inyiak. Semua yang hadir pun tertawa.

            Kisah yang lain, masih menurut Syekh Abdul Gafarm ketika Inyiak Parabek akan hijrah ke Maninjau saat PRRI, beliau memakai pakaian samara berupa  celana batik dan topi bambu halus.  Dari arah Guguk melalui Ngarai ke Guguk Randah tempat Bis  PO Beres menunggu. Gaek Hj Syarifah, isteri beliau,  naik Bendi dari Guguk Tinggi ke Guguk Randah. Sat itu, Inyiak Parabek sudah  naik PO Beres, duduk disamping sopir. Isteri beliau pun naik bis dan duduk juga di samping sopir dan Inyiak. Inyiak sengaja tidak bersuara, Saat itu Abdul Gafar dan Musa Gadang yang membersamai mereka, duduk di belakang supir. Ketika mesin mobil dihidupkan untuk diberangkatkan maka sang isteri  bertanya : “Ma Inyiak ang cako?” Abdul Gafar pun menjawab : “Dakek Gaek Siatu Caliak Banalah.. coba perhatikan dekat gaek”. Setelah diperhatikan dengan seksama, Gaek meninju Inyiak sambil tertawa, mereka pun tertawa mesra.

Ingin ditulis kisah hidupnya menjadi buku Biografi yang menarik dan inspiratif ?. Silahkan hubungi kami kapan saja di:

0822-2123-5378

Kata terkait:

jasa penulis buku biografi, buku biografi, penulis biograf, biografi tokoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *