Jonru : Jiwa dan Pemikiran Saya adalah Kebebasan Sejati

By | 09/11/2017

Jonru : Jiwa dan Pemikiran Saya adalah Kebebasan Sejati
Oleh : Subhan Afifi

Kamis, 2 November 2017, jelang Dzhuhur.

Masjid Al-Kautsar Polda Metro Jaya tampak mulai ramai didatangi jama’ah. Rombongan Polisi berwajah teduh disapu air wudhu memasuki masjid bertiang 99 yang sejuk itu. Tak sedikit yang mengenakan peci putih ala santri.

Alhamdullilah, shalat jama’ah dzhuhurnya ramai sekali. Mirip shalat Jum’at. Jama’ah dari Bapak-Bapak Polisi yang berseragam maupun tidak, ditambah para pengunjung, membentuk shof yang lurus dan rapat, meluber hingga luar ruang utama masjid.

Shalat berjama’ah yang adem dilengkapi dengan Kultum ba’da Dzhuhur. Sambil menunggu Edi Santoso dan keluarganya, serta Fajar Nursahid yang terjebak macet Jakarta, saya menyimak tausyiah sang Ustadz yang membahas hak saudara muslim.

“Menjenguk ketika sakit adalah kewajiban kita sebagai sesama saudara muslim,” ujar Pak Ustadz, yang tampil lengkap dengan kopiah dan surban putihnya.

Jonru memang tidak sedang sakit, tapi kami berniat menjenguk seorang sahabat yang sedang mendapatkan kesusahan dan ujian.

Tak lama setelah kultum, Edi Santoso memberi salam dan menyapa ramah dari belakang. “Ini Syafiq, Putra Jonru,” katanya mengenalkan seorang anak laki-laki ganteng berkulit bersih. Terlihat beberapa anak lain berlarian di sekitar masjid.Saat Mengunjungi Jonru di Rutan Salemba 1

Edi Santoso datang bersama isteri dan 2 anaknya, jauh-jauh dari Purwokerto. Mereka datang bersama isteri Jonru dan 3 putra-putrinya. Isteri Jonru adalah Kakak dari isteri Edi. Jadi Jonru adalah Iparnya Edi Santoso. Ketika kuliah mereka sama-sama aktivis pers kampus, setelah menikah jadi saudara karena isteri mereka adik-kakak. Selepas kuliah di Komunikasi Undip, Edi Santoso menjadi wartawan Harian Suara Merdeka, dan setelah itu pindah haluan ke dunia pendidikan, jadi dosen di Unsoed Purwokerto.

Dari masjid yang menyejukkan, kami bersembilan bergegas menuju Rutan Narkoba, tempat Jonru dititipkan. Isteri Jonru dan isteri Edi, 2 kakak beradik yang kompak, terlihat sibuk membawa tempat makanan bersusun, dan aneka tas plastik berisi buah dan panganan. Ada getuk goreng asli Purwokerto juga.

Setelah melapor, meninggalkan KTP dan HP di ruang penjagaan, kami melangkah memasuki ruang khusus tempat untuk menjenguk tahanan. Peralatan metal detector harus kami lewati setelah mengambil tanda pengenal.

Kontras dengan suasana masjid Polda yang sejuk, ruang tahanan tampak kaku dan menegangkan. Kami diarahkan ke ruang khusus, agak gelap. Di sebelahnya ada meja berpenjaga yang membelakangi jeruji besi tergembok, akses masuk para tahanan. Tempat menemui tahanan itu tanpa kursi dan alas untuk duduk.

Seorang petugas polisi berseragam lantas membuka pintu jeruji dan masuk ke dalam, menjemput Jonru. Tak lama berselang, pria yang dirindukan itu hadir dengan seragam oranye bertuliskan “Tahanan”.

Ia langsung menyalami dan memeluk isteri tersayang dan anak-anak serta para keponakannya satu per satu. Ada perasaan tak terlukiskan dalam hati menyaksikan pertemuan seorang ayah yang terpisah sekian lama dari anak-anak dan isterinya. Di penjara lagi. Hiks…

“Subhaaan..! Wah surprise…” kata Jonru kemudian, setelah pelukan pada anaknya di lepas, dan mengalihkan pandangannya ke arah saya dan Edi yang sedari tadi hanya bisa diam membisu. Kami pun bersalaman, cipika-cipiki bertanya kabar.

“Sebentar…!,” kata Jonru tiba-tiba setelah menyadari kami semua bersembilan masih dalam posisi berdiri. Rupanya Jonru minta izin lagi ke Pak Polisi untuk masuk ke dalam sel, kemudian tergopoh-gopoh kembali membawa selimut dan alas tidur yang langsung digelarnya jadi alas duduk kami bersembilan.

Jadilah pertemuan itu seperti piknik keluarga di pinggir pantai. Santai dan akrab. Isteri Jonru dengan cekatan membuka perbekalan yang dibawanya. Ada nasi lengkap dengan sayur tumis kacang panjang dan lauk ikan gurami bersantan plus mie goreng. Masih ditambah dengan jeruk, dan getuk goreng.

Saat Mengunjungi Jonru di Rutan Salemba 1 (2)Awalnya Jonru tampak termangu menatap kosong sajian lengkap makan siang yang disiapkan Sang Isteri. “Puasa ya…wah lupa kalau hari Kamis,” kata Isteri Jonru. Jonru mengiyakan. “..Tapi nggak apa-apa dibatalkan ya puasa sunnahnya, kan ada tamu,” lanjutnya sambil terkekeh.

Piring dari kertas minyak pun dibagikan kepada semua yang hadir. Anak-anak ramai berceloteh dan bercanda dengan ayahnya. Sebelum makan Jonru sempat membagikan 2 kipas cantik kepada si bungsu dan seorang keponakannya. “Ini hadiah dari yang njenguk mahasiswa yang ditahan karena demo kemarin,” kata Jonru.

Si Bungsu dan keponakan kecil itu riang menerimanya. 2 mahluk mungil ini ramai sekali, sempat minta digantikan baju princess lengkap dengan mahkota yang mereka bawa kepada Umminya.

Jonru pun menggoda anak dan keponakannya itu dengan riang sambil sesekali bertanya tentang kabar di rumah dan sekolah. Menyaksikan berbagai adegan di ruang tahanan itu, Saya berkesimpulan cepat bahwa Jonru adalah sosok ayah yang hangat dan penyayang.

“Alhamdulillah, saya baik-baik saja,” kata Jonru lebih serius ketika saya bertanya usai makan siang nikmat itu. “Justeru saya merasa diberi kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lebih banyak ibadah, dan ngaji,” tambahnya.

Jonru mengaku tak ada persiapan khusus menghadapi sidang praperadilannya. Semuanya diserahkan ke tim pengacara dari Bang Japar. “Ini masalah politik, jadi saya pasrah saja,” katanya.

Menulis jadi agenda rutin Jonru di penjara. Walau tak ada laptop atau smartphone, merangkai kata jalan terus. Jonru menulis dengan pena dan kertas.

Ia kemudian bercerita tentang Novel Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy, yang dipinjam dari seorang mahasiswa kawan sesama tahanan yang ditahan karena demo.

Novel itu berkisah tentang Syaikh Said Nursi, seorang ulama Turki yang hafal Al-Qur’an dan mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik saat berusia 15 tahun. Karena kemampuan luarbiasa yang diberikan Allah Ta’ala padanya beliau diberi julukan sebagai Badiuzzaman (Keajaiban Zaman).

“Saya terinspirasi dengan kisah Syekh Said Nursi, ulama yang diceritakan dalam novel Api Tauhid,” cerita Jonru antusias. Said Nursi adalah tokoh ulama yang lantang menyuarakan kebenaran, walau beresiko berseberangan dengan kekuasaan..

Dalam Novel Api Tauhid dikisahkan Said Nursi berusaha disingkirkan oleh penguasa. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Kondisi itu tak membuatnya bersedih, justeru ulama besar itu bersyukur karena di penjara beliau menemukan cahaya abadi ilahi. Api Tauhid ditemukannya dalam kegelapan penjara.

Menariknya, dari pengasingan dan penjara, Said Nursi tetap menyampaikan kebenaran melalui berbagai pengajian dan majelis ilmu yang digelarnya. Murid-muridnya kemudian menyebarluaskan kepada khalayak dengan cara menulis ulang pesan kebenaran Sang Syekh.

Saat Mengunjungi Jonru di Rutan Salemba 1 (3)Pesan-pesan tersebar luas bahkan risalah dakwahnya sempat dibukukan para muridnya dalam sebuah kitab yang diberi judul “Risalah Nur. Para muridnya yang setia tak ingin Api Tauhid yang dinyalakan sang guru dengan berkobar-kobar harus padam karena Syekh Said diasingkan dan di penjara di tempat yang jauh.

“Saya terkesan dengan kisah Ulama Besar itu,” ujar Jonru sambil menulis secarik pesan di kertas putih sebelum kami berpisah siang itu. Jonru menulis seperti ini :

————————————-

“Di Rumah Tahanan, saya menulis pakai kertas dan pena. Tak ada smartphone atau laptop. Penuh keterbatasan. Namun saya tetap menulis.

Raga saya boleh dipenjara, namun jiwa dan pemikiran-pemikiran saya adalah kebebasan sejati yang tidak akan bisa engkau seret ke penjara manapun.

Ayo teman-teman, tetap semangat memperjuangkan kebenaran, seberat apapun situasi yang kita hadapi.”

Rutan Polda MJ
2 November 2017
Jonru Ginting

—————————————

Pesan JonruSaya belum sempat membaca tulisan Jonru saat itu. Kertas putih itu langsung saya masukkan tas. Perhatian saya justeru tertuju pada pelukan dan pesan Jonru pada anak gadis sulungnya yang beranjak gede dan berhijab rapat. “Yang tabah ya…” bisik Jonru pelan hampir tak terdengar.

Kamipun beranjak meninggalkan Rutan Polda Metro Jaya dengan hati gerimis. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *