TGB

By | 01/07/2017

TGB
@subhanafifi

Gubernur NTB, Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA, atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) adalah sosok pemimpin ulama yang sukses memajukan daerahnya. Sebagai warga kelahiran Sumbawa, NTB, yang kini tinggal di perantauan, tentu saya ikut bersyukur memiliki pemimpin yang inspiratif dengan akhlaq mulia dan sederet prestasi.

Beruntung saya bisa ikut hadir pada majelis TGB di Masjid Ulil Albab UII Yogyakarta, Ahad, 18 Juni 2017. Menyimak paparan TGB tentang Implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam Kepemimpinan Publik, serta sharing pengalamannya memimpin NTB 2 periode, ada optimisme membuncah dalam hati. Bahwa Indonesia punya stock pemimpin nasional yang bagus dan berlimpah.

“Pemimpin daerah hasil Pilkada sering kali tergoda cepat membangun untuk legacy yang bisa dikagumi,” ujarnya. Tapi melupakan memperioritaskan hal-hal mendasar yang berdampak jangka panjang. Di NTB, Pendidikan dan Kesehatan menjadi prioritasnya sejak awal menjabat. “Hasilnya InsyaAllah dirasakan 10-20 tahun lagi, setelah gubernurnya bukan saya,” tambahnya. Menurut TGB, inilah penerapan praktis dari “Doing Good for God” dan “Yanfaul linnas”. Memberi manfaat seluas mungkin bagi manusia. Bukan sekedar wacana.

Ketika awal menjadi Gubernur, TGB mencoba menyisir apa yang dibutuhkan masyarakat, dan menjadikannya sebagai dasar membuat kebijakan. “Awal jadi Gubernur saya diminta menutup pariwisata. Alasannya berdampak buruk pada masyarakat karena ada budaya minuman keras, pergaulan bebas dan lainnya,” kisahnya. “Lantas kami berdialog.Turis justeru peluang Dakwah. Memberikan pelayanan terbaik, melayani tamu kan bagian dari ajaran Islam,” lanjutnya.

Alhamdulillah, dengan pendekatan yang baik dan melibatkan masyarakat, pariwisata berkembang. “Bertahap kami membangun wisata halal. Menghadirkan nilai-nilai Islami dengan pendekatan yang akuntabel. Halal tourism dirasakan manfaatnya bahkan oleh masyarakat non Muslim,” tegasnya.

“Kita perlu introspeksi jika keislaman kita justeru menjadikan hubungan sosial terganggu atau jika kehadiran kita lebih banyak menggelisahkan. Mari introspeksi,” ajaknya.

Membaca fenomena TGB, saya membayangkan saatnya pemimpin daerah yang sukses diorbitkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mestinya syarat jadi pemimpin nasional ditambah satu lagi, pernah sungguh-sungguh sukses memimpin daerah. Untuk menunjukkan rekam jejak yang sebenarnya. Bukan sekedar pencitraan media.

TGB, yang muda, ulama, dan berprestasi, adalah salah satu calon pemimpin nasional Indonesia masa depan. InsyaAllah. Semoga Allah Ta’ala memberkahi beliau. Barakallahufiih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *